Senin, 15 September 2014

Lima Belas September: Sebuah Kecemasan

Bagaimana jika orang yang kamu cintai ternyata mencintaimu dengan terpaksa. Walaupun dengan kata lain kamu berhasil memaksanya mencintaimu. Bagaimana jika selama ini orang yang berhasil kau paksa untuk mencintaimu ternyata sudah merasa bosan dalam kepura-puraannya. Lalu bagaimana jika ternyata orang yang telah berhasil kau paksa mencintaimu ternyata telah menemukan keburukan-keburukanmu.
Lalu bagaimana jika setelah itu dia urung mencintaimu dan menyesal telah berdiam dalam kecintaanya kepadamu. Lalu bagaimana jika ternyata orang yang berhasil kau paksa mencintaimu menemukan orang yang lebih baik
darimu. Lalu bagaimana jika ternyata orang yang lebih baik darimu itu memang benar- benar dipilih Tuhan untuk menjadi teman seperjalanannya. Lalu bagaimana jika orang
yang berhasil kau paksa untuk mencintaimu ternyata mengatakan “aku ingin berhenti mencintaimu!” bagaimana jika kau harus mendengarnya dalam waktu dekat?

Bersiaplah diri..

Rabu, 03 September 2014

Tiga September: Ada yang Mati Hari Ini

Ada duka yang sedang menyelimuti dada,
entah perkara apa.
Apakah baru saja ada yang mati atau hanya berjalan pergi.
Katanya berjalan bersama adalah bahagia,
tapi menggenggam tangannya saja aku tak bisa.
Bahkan untuk yang terakhir kalinya.
Berbicara itu membuatku kehilangan daya,
tapi memendam diam hanya akan menghujam.
Aku tak tahu bagaimana menyampaikan,
kupikir mungkin saja dengan hati yang sedang kencang kugenggam kamu akan paham.
Aku sudah tak mau lagi bertahan karena ada yang minta dilepaskan.
Kita memulainya tanpa aba-aba, jadi bukan apa-apa jika kamu pergi tanpa kata.
Aku tak ingin banyak meminta.
Meminta sedikit waktu yang terasa amat besar bagimu.
Ada yang melilit sekali di dalam hati,
sudah ku lepaskan namun tak juga berhenti.
Aku tahu jika semua sudah punya waktunya,
jadi untuk apa aku berupaya untuk menunda.
Kematian adalah kepastian.
Aku tidak sedang menangisi pergimu, aku hanya sedang membesarkan hatiku.
Meski keduanya sama-sama melelehkan air dari mata.
Sia-sia saja berjalan ke pemakaman, karena hanya akan menumbuhkan harapan agar kau siuman.
Mengantarmu pergi seperti melepas paksa jantung yang menghentikan nadi.
Cukup rasa saja yang mati hari ini,
aku tak mau bunuh diri.