Senin, 07 Desember 2015

Tujuh Desember: Naas

Jangan lupa, cinta yang paling baik adalah yang secukupnya. Tempat teraman baginya, ialah doa.
Dan aku,
Semacam ingin menghilang, dan ingin rasa rindumu saja yang sanggup menemukanku.
Kau kuinginkan, namun sengaja tak kukejar, meskipun terjangkau. Nampaknya kau juga mengerti, ada yang selalu berbeda ketika sudah dimiliki.

Sabtu, 05 Desember 2015

Desember Lima: Dua Puluh Satu

Sebenarnya, hari ini adalah peringatan seorang anak telah resmi lahir

Diminumkan air gletser, setangkup gambas, dan kuah air mata

Masing-masing satu penukar beratnya

Kurang lebih 350 kilo kalori buat sarapannya sampai nanti siang

Mukanya sumringah, matanya mengerjap penuh cahaya.

Kepada kawannya ia berbisik ,”Cita-citaku menjadi pelawak”

Dan tertawalah semua orang.

Sambil terhuhu-haha-hihi semua yang hadir menjulurkan kepalanya untuk bertanya,

“Bagaimana bisa impian manusia mungil ini sebegitu rendah?”

“Saya cuma ingin melihat kalian bahagia”

Tak seberapa jauhnya, di balik bilik, para profesional menjual hatinya di sini.

“Kami para professional dan kalian semua para rendahan tukang telat! Jika deadline rabu depan maka kumpulkan hari selasa padaku! Jika lewat? Sampaikan salammu pada surat peringatan satu, bro.”

Si jabang bayi akhirnya berubah bentuk jadi makhluk tegak berdandan rapi tiap ke sekolah.

Ia berangkat subuh pulang malam.

Dengan fisik lelah dan jiwa kosong.
Jika barangkali engkau bertemu dengannya di suatu waktu, cobalah menyapa dan bertanya,

” Bagaimana cita-citamu? Terejawantahkankah?”

Ia cuma senyam-senyum getir.

Ditertawakan orang dia telah biasa, .
karena itu satu cita-citanya.

Sabtu, 28 November 2015

Dua Puluh Delapan November: Maison

Aku mau pulang saja
Menjinjing rinduku berjalan ketepian
Mungkin aku memang tak tau arah pulang
Tapi biarlah
Sesegeralah aku enyah dari persinggahan ini

Yang tak lagi nyaman kutempati

Lekas saja memotong akar-akar di kakiku
Hingga langkah ini tidak sedemikian kaku
Dan aku menanam terlalu banyak hal disana
Yang jika aku pergi maka akan mati kutinggali

Namun bukankah sebaik-baik peraduan ialah yang mencipta kenyamanan
Jadi untuk apa bertahan membiasakan diri dengan perasaan tak aman?

Mungkin saja saat berjalan pulang nanti
Akan kutemui sarang tak berpenghuni
Hingga nanti akan kudiami
Sampai aku enggan pulang lagi

Rabu, 18 November 2015

Delapan Belas November: Menunggu Desember

Menunggu Desember..
Sebagaimana aku merancang komposisi kata dalam frasa ini, aku tahu ini tidak akan pernah tersampaikan. Aku pernah kian jatuh cinta dalam debur bait cinta yang dia hembuskan. Hari itu seringkali kuputar kembali saat alam tidur hendak kujelang. Rasaku beralun jauh, jauh, dan terus hingga hari ini bergemuruh.

Kata mereka janji bisa diuntai. Melalui aksaranya aku percaya tidak ada janji. Aku enggan menagih, karena sejatinya berakhir perih. Bagi jiwa, cahayanya lebih dari sekedar janji. Sebab itu tiada perlu aku bersedih.

Aku, kamu, waktu.
Selain jarak yang membelah, satu dari sekian bahkan tak ada terbesit persoalan menyerah. Percayaku kepada waktu, dia bergerak laju. "Menujuku Desember", ujarnya. "Selamanya", sanggupku. Belum pernah diseumur hidupku menantikan datangnya hari. Meski lebih sering darinya aku berusaha berlari.

Menunggu Desember..
Detiknya bagai nadi yang berdenyut rapih seperti irama. Dengan nada kepercayaan, juga lantunan rindu untuk bersama.

Menunggu Desember..
Baru sekali ini kuhitung setiap berkah yang kepadaku dianugerahkan. Karya agung, maha sempurna. Kasih tanpa omong kosong keraguan. Benderang pun dihujani pelangi. Andai menunggu Desember selalu seperti ini..

Menunggu Desember..
Sesiapa menemukan bosan, tidak kuhiraukan. Sayang saja, selekas itu kita berlainan. Aku bukan alasan yang tepat baginya untuk berlabuh. Dan dia, satu yang tanpa ada lain definisi istemewaku, berlayar keluar dari teritori hidupku. Aku karam. Sesaat nyaris sudut mataku berurai kembali. Satu nama menyelinap dibalik doa.

Mengenai arah yang kupilih, detik itu aku dijebak kemelut. Sesaat lain lagi, aku tau dia tak akan datang. Ada baiknya aku pulang. Meletakkan segala elegi untuknya dari tepi dia kemudian pergi.

Dia tidak membawa apapun milikku, kecuali hati.Untuknya, takkan kuminta kembali. Karena yang kutahu, kasih itu hanya memberi. Selalu ingat apa yang kuberi, kapanpun waktu buruk menghampirimu.

Jangan pernah lupa..
Sesayup doaku terselip di saku kirimu,
jauh sebelum aku menunggu desember..

Sabtu, 07 November 2015

Tujuh November: Anomali Hari

Gemericik hujan beradu dengan atap bangunan, sedikit genangan air di dalam sepatuku, malam ini basah. Iya, basah. Ialah untuk seluruh tubuh, raga, dan juga jiwaku.
Masih asyik mashyuk dengan beberapa batang djarum, asap mengepul di dinding-dinding rongga pernapasan yang makin terasa sesak malam ini. Katakan ini amunisi, sebab aku perlu banyak kekuatan untuk berkelahi, dengan diriku sendiri.
Jadi hujan, jangan pergi dulu. Aku masih punya sesuatu di mataku yang harus kusembunyikan diantara tetesmu.

Minggu, 25 Oktober 2015

Dua Puluh Lima Oktober: Revisi Rasa

Hujan reda,
tapi tidak dengan dinginnya,
tidak dengan genangannya

Sama seperti kita,

Mereda,
tapi tidak dengan kenangannya,
tidak dengan rindunya

Minggu, 18 Oktober 2015

Delapan Belas Oktober: Pergi, atau Tiada?

Bagaimana aku akan belajar tentang ikhlas dari sebuah kepergian, sedang kau tak pernah benar-benar pergi kecuali hanya seperti meniadakanku.
Pernah beberapa kali ku berfikir kau telah pergi dan meninggalkanku, tapi setelahnya begitu jelas kau hadir dalam ingatanku dan di waktu-waktu tertentu kau mampu mendetakkan kembali jantungku, hingga membangunkan harapanku yang telah coba kutabahkan..

Lalu pertanyaanku, seberapa akan
sakitkah dada ketika sebuah kepergian terjadi?

Iya, sebab aku tak pernah merasakannya darimu, sehingga aku tak tahu rasanya seperti apa, yang aku tahu dari rasa sakit adalah hanya sebuah kepergian yang tak pernah terjadi namun nyaris seperti tiada.
Atau seperti rasa sakit, dari harapan-harapan yang sepertinya kekosongan belaka.
Nilai sakit dari sebuah kepergian, seperti yang sudah-sudah hanyalah sebuah sakit yang akan mengajarkan bagaimana menabahkan hati lalu mengikhlaskan
seseorang.

Tapi bagaimana dengan sebuah kepergian yang tiada namun ada?

Lebih dari sekedar luka atas kepergian, ia tak hanya mengajarkanku tentang ketabahan atau pun keikhlasan, namun uji akan kesetiaan dan besarnya arti pengorbanan menjadi nilai tersendiri pada keadaan ini.

Iya, seberapa pun jauh kau mencoba pergi dan mengabaikanku, cinta selalu menahanku untuk tetap menunggu kepulangan hatimu.

Namun jika kau benar-benar ingin pergi, cukup kau genggam hatiku. Lalu katakanlah kau tak sungguh-sungguh mencintaiku. Maka mengikhlaskan kepergianmu akan sama mudahnya mengikhlaskan kepergian-kepergian kemarin.

Sebab kau tahu, cinta selalu memberi ruang kebebasan kepada yang dicintainya, hanya cukup kau ungkapkan, maka terjadilah..
Untuk setia, cinta terkadang tak butuh balasan..
Karenanya bahkan kepergianmu takkan pernah membuat cintaku meninggalkanmu..

Kau boleh pergi, dan aku boleh ikhlaskanmu.
Tapi cintaku akan setia mendoakanmu.

Rabu, 07 Oktober 2015

Tujuh Oktober: Sebuah Eksistensi Bernama Kita

Menghirup oksigen yang sama
Tertawa dengan tata-cara serupa
Berlari,
Seperti dikejar rasa takut sendiri
Spontan,
Kau berlari sendiri tak lagi temani

Tak berbakat aku mengucapkan perpisahan
Tak biasa pula aku ditinggalkan
Bolehlah... kau tertawa
Tapi tak usah kesana

Apakah duka bisa disampaikan dalam bentuk kata-kata?
Sudahlah

Adakah wadah disana untuk menampung maknanya
Hingga tak perlu kau kesepian
Apa pula kesakitan

Selamat pulang,
Kematian tak dapat menghapus janji,
Yang sudah dulu punya eksistensi,
bernama,
kita

Minggu, 20 September 2015

Dua Puluh September: Bahasa Paling Terluka

Bagaimana kabarmu bagi kerinduanku kekasih. Sedang sudah berapa waktu kita tertulis sebagai bukan siapa-siapa. Barangkali ia begitu baik dalam rupanya,
dalam diam-diam menyembunyikan
sesuatu yang samar bagi kesedihanku. Jika saja tanyaku ini menghadirkan
pertanyaan ulang atas kerinduanku,
mungkin tak perlu ku jabar, bahkan
kesedihan telah begitu hafal lafal-lafal
kepedihannya.
Kekasih. Mungkin kau bertanya sampai dimana kini jalan yang ku jejak untuk
meninggalkan kepedihanku, atau telah
sampaikah aku pada kebahagiaan yang
kau maksud sebagai kebahagiaan. Kau
akan tahu kekasih, karena aku tak pernah kemanapun, aku masih di sini. Menulis namamu dalam puisi kerinduanku. Puisi yang setiap hurufnya sukses menyulamkan kesedihan dan kebahagianku di waktu yang sama.
Sebenarnya, tak bermaksudku menutur
pedih ini untuk menarik simpul simpatimu. Tapi segala yang sakit akan semakin meradangkan kepiluanku, ketika kupaksa bekukan dalam pura-puraku.
Hingga tak harus kau membacanya,
seperti ketika kekasihmu menuliskan ejaan romantisme di sudut kebersamaanmu.
Karena sgala yang tertulis dalam puisiku, semua yang tertulis dalam selaksaku hanyalah cara-caraku menuntaskan kerinduan.

Di kerinduanku, ketika sgala yang terfana,
memintaku mendoa…
Di kesakitanku, ketika sgala yang terlihat,
memintaku berharap…
Di kesedihanku, ketika sgala yang terluka,
memintaku bersabar..
Dan di kebahagianku, ketika sgala yang
tersembunyi, memintaku menemukan…
Duhai, aku masih saja menyebutmu
kekasih, di tempat yang tak siapapun bisa
menahanku..
Di setiap bait kataku, yang memintaku
pulang kepadamu…
Di sebuah kerinduan yang menuliskan
bahasa paling terluka..

(di selarik puisiku di tempat ini, aku dan kopi pertama pagi)

Selasa, 08 September 2015

Delapan September: Biar

Baru kemarin kata terucap.

Kupikir Tuan mudah memahaminya.

Nyatanya? Aku masih serupa isapan liur untuk dahagamu

Lemparkan saja kerikil-kerikilmu pada wajahku yang tak lagi memiliki paras.

Aku sudah kebal pada luka yang kau sematkan

Tak ada tatapan matamu yang memberi sinar, apalagi rasamu yang kau akui telah terisi bulir kasih.

Semuanya kosong, Tuan!

Pergilah menjauh. Aku sulit memahamimu, Tuan.

Yang kau beri hanyalah kisah pilu dan lirih yang menyayat

Jumat, 28 Agustus 2015

Dua Puluh Delapan Agustus: Efek Rumah Kaca - Melankolia

Tersungkur di sisa malam
Kosong dan rendah gairah
Puisi yang romantik
Menetes dari bibir

Murung itu sungguh indah
Melambatkan butir darah

Nikmatilah saja kegundahan ini
Segala denyutnya yang merobek sepi
Kelesuan ini jangan lekas pergi
Aku menyelami sampai lelah hati

Melankolia
Melankolia...

Dua Puluh Delapan Agustus: Lepas

Sambil kupilin utas jiwa ini, sesekali ujung gundah kembarakan biar sudah

Jika nanti pada tepi yang bertaut, hamparkan selebar yang kau suka

Aku menunggumu, demi nyaman yang kau mau

Minggu, 16 Agustus 2015

Enam Belas Agustus: Apa Ini?

Bukan lemah, namun juga tidak sangat kuat. Hendak berkesah tak berkesudahan.Aku dipecundangi keadaan. Aku hanya perlu kata-kata, tapi bagaimana menjelaskan? Sungguh.. Ini rasanya seperti menangis, namun tanpa air mata.

Kamis, 13 Agustus 2015

Tiga Belas Agustus: Tuan

Ada perjumpaan, begitu pula perpisahan. Ada bahagia, begitu pun kedukaan. Ada cerita yang tak bisa ditoreh dalam kata. Ada air mata yang terlalu sering diseka. Atau justru, kepedihan yang tak bisa dijelaskan kepada siapa-siapa.

Senin, 20 Juli 2015

Dua Puluh Juli: Coret

Tuhan, hamba-Mu ini sedikit lelah, dengan hatinya, dengan hidupnya. Hari-hari yang menggulung penuh gelombang pasang. Penat untuk setiap harinya yang pernah ia harap akan baik-baik saja. Lelah mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, namun ia menolak dan tidak bisa lagi untuk menunduk kebawah. Baru ia sadari, bahwa sesungguhnya ini benar-benar tidak akan pernah mudah.
Ia lemah untuk menegakkan nafas dalam setiap coba-Nya. Hujan selalu saja berhasil mengoyaknya, menjadi kepingan manusia kecil yang hina. Silih berganti, bertubi-tubi.
Tuhan.
Ia hanya makhlukmu yang berselimut kulit ari. Manusia yang terpaling lemah dihadap-Mu. Adakah jalan terang menuju-Mu untuknya?


Minggu, 12 Juli 2015

Dua Belas Juli: Tiada


Sayangnya kau tak sejalan bersamaku siang terik itu, kau sibuk dengan meja kaki empat yang ditimbun judul-judul buku, berlembar-lembar halaman kertas penuh angka berserakan.
Jika ada, akan kuceritakan bagaimana
sinar-sinar kecil matahari merayuku,
mencumbuku dari sela-sela dedaunan
pinus beranting, jika ada akan kuberitahu
bagaimana dia (matahari) membuatkanku seorang teman, teman baik yang mencoba menghiburku dengan menirukan gerakku sedari tadi, menggantikanmu agar aku tak sepi, yang menghitam dan bisu.
Iya,

semua itu jika ada kau.


Sabtu, 04 Juli 2015

Empat Juli: Abu

Kau nampak begitu abu. Aku rasa jika kau
hitam akan lebih mudah bagiku mendepakmu jauh-jauh. Tak perlulah kau mengucap salam padaku. Salam bagimu hanya lintas lalu. Seperti kendaraan yang hilir mudik di jalanan lengang ibukota. Tidak ada yang ditinggalkan kecuali debu dan asap pekat beracun. Seperti itu pula kamu buatku : Racun.
Kau serupa abu namun kehitaman, tak
nampak kilatan-kilatan putih menyerupai larik pada detail garis wajahmu. Tak seperti yang kulihat dikeramaian, wajah-wajah yang terserak nampak putih merona, tapi tidak padamu, kau hitam.
Mungkin raut ibukota jadi oksigen bagi
parumu. Kau akan mati perlahan jika oksigen menghilang.
Lalu bagaimana denganku?
Bukankah aku oksigen bagimu?


Kamis, 25 Juni 2015

Dua Puluh Lima Juni: Lilin Membakar Bulan

Sedang mengutip namamu, lagi, pada baris yang sama. Kutulis sampai pada kalimat ketiga.
"ketika satu bulan menghilang, bahkan seribu bintang tak akan bisa menggantikan cahayanya".
Sayang,
Rangkaian kata ini bukan untuk memanggilmu dalam ramai. Tidak untuk menarik lagi hidupmu yang tlah damai.
Tapi bukan aku tak mengiba pada setiap alfamu, karena aku pasti kehilangan. Maka kubakar rasa ini dalam api, kusemai panasnya dalam bara.

Hingga aku tersadar, cahaya seribu lilin ini terang.


Kamis, 11 Juni 2015

Sebelas Juni: Dari Aku yang Sombong

Hai kamu. Yang mungkin hingga saat ini masih menguntai benci padaku. Kemarin aku melihatmu, mataku tak sengaja menangkapmu dari kejauhan. Kulihat kamu sedang tersenyum lebar. Kamu terlihat bahagia, aku senang mengetahuinya. Aku rasanya ingin menyapa, namun kurasa aku tidak seberani itu. Apa baiknya tersenyum padamu setelah aku melakukan hal yang sangat menyesalkan kemarin? Tentu sulit melupa bagimu, aku bukan bersikap angkuh atau arogan, hanya saja aku begitu menghargaimu. Aku bukan malaikat penghendak rasa. Juga bukan pengendali hati yang baik. Tidak mau jika terus membuatmu menunggu, sedang aku sudah menempatkan hatiku pada sosok yang lain. Ketahuilah, aku hanya tidak ingin kamu terluka lagi, lagi. Aku sangat menghargai rasa yang kamu pelihara. Hanya mungkin langkahku yang tak tepat, dan caraku yang tak baik.
Tersudut dengan apa yang orang lain katakan, aku tak menepis, tak hendak munafik. Karena aku juga sama sepertimu, bukankah kamu juga tidak bisa mengendalikan hatimu dan rasamu untuk siapa? Mengalir begitu saja, dan naif rasanya jika lagi-lagi aku tak mengakuinya. Jadi jangan sekalipun menyesal untuk seluruh waktu yang pernah kamu habiskan bersamaku. Karenamu, aku mengenal hatiku dengan baik. Aku pun tidak berharap untuk memugar setiap bincang kita, yang terpenting adalah, mari kita mencerna waktu kita dengan bijaksana.
Semoga, dan senantiasa kuharap, agar kamu tetap selalu menebar senyummu. Meski mungkin aku bukan salah satu dari yang beruntung mendapatkannya.


Kamis, 04 Juni 2015

Empat Juni: Kembali Berjalan

Menjumpai kepergian,
Pada purnama ke delapan,
Tolong bantu aku menerjemahkan,
Segalanya mengenai kehilangan.
Lengan kita yang saling berpelukan.
Berganti punggung yang saling
berhadapan.
Dulu, kita terbiasa saling mengingatkan.
Kini, kita terpaksa saling melupakan.
Apakah ada yang lebih menyedihkan?
Kau pergi ke kiri dan aku belok ke kanan.
Walau kulepaskan kau dengan enggan.
Bayangmu tetap harus pergi pelan-pelan.
Selamat tinggal perpisahan,
Membingkaimu lagi adalah angan.
Mengingat senyummu adalah kenangan.
Namun mengiringmu kembali bukanlah harapan.


Senin, 20 April 2015

Dua Puluh April: Ini Panggungmu


Akhirnya aku tersenyum lagi, senyum yang kecil, senyum yang sama yang pernah kulempar di saat aku tahu bahwa aku memang tidak pernah pantas diperjuangkan. Seharusnya
aku lebih berekspresi, sebab kebohongan ini amat menyentak.

Aku ingin melangkah mundur sambil memberimu tepuk tangan. Kau hebat. Ini panggungmu.
Tempatmu lihai bersandiwara, sementara aku terlampau merasakanmu.

Terkadang, pengakuan adalah pukulan yang telak. Terima kasih, setidaknya setelah kau mengakuinya, kau tidak lagi menyangkal.
Sekarang aku harus bagaimana? Kenyataannya ternyata, hatiku yang berbicara dengan otakmu dan orang terlanjur bilang kita cocok.
Sial.

Aku tidak tahu harus bagaimana sekalipun dimataku kau yang salah. Orang yang salah patut dihukum sebelum pintu maaf terbuka lebar.
Namun hukuman apa yang pantas
untuk pembohong? Beri tahu aku apa!
Aku tidak mungkin hanya sekadar menghujan sumpah, sebab kata-kata kutuk tidak seharusnya keluar dari mulutku.

Aku takut kau menyesal. Mungkin suatu hari, saat kau telah menggenggam segala inginmu, kau hanya akan bertanya aku di mana, sambil menyiksa dirimu sendiri.

Senin, 06 April 2015

Enam April: inujieh

Semoga, ada sedikit ruang kosong di dalam hatimu untuk maafku
Ini aku, berdiri dihadapanmu menelan kesombonganku
Selayaknya pendosamu
Bahwa mungkin akulah penyebab luka-luka menganga di hatimu itu
Pantas? Tentu aku pantas
Aku pantas untuk kauserang dengan kecewamu, aku pantas kaulebur dalam amarahmu
Aku mungkin melukai harga dirimu
Dan akan melukai banyak lagi padamu
Jadi sebelum kepingan itu semakin tergerus dan tentu takkan terpugar lagi
Dengan tangan terbuka, terimalah rasa bersalahku ini
Dan setelah itu, kedua kakimu bisa bebas berlalu dariku, kemanapun, kau suka
Aku dan dosaku yang kutebar dengan suka cita
Bahwa mungkin saat itu akulah yang terlihat paling bahagia menginjak harapmu
Aku menyesal
Terimakasih untuk selalu ada dibelakangku
Semoga bahagia selalu menyertaimu

Kamis, 26 Maret 2015

Dua Puluh Enam Maret: Deja Vu

Malam. Balkon gedung. Alat make up berserakan. Alis penyihir. Laki-laki cantik. Udara dingin. Bulan bintang mengintai. Gelak dalam jejak. Gendongan di punggung kecil. Sampai larut.
---
Pagi hari. Dua pasang sepatu olahraga. Berlarian. Berkejaran. Sinar matahari menyengat. Berburu talok. Terpingkal sepanjang jalan. Lelah. Gardu tingkat ketiga. Berbagi sebelah earphone. Mendengarkan musik bersama.

Indah, ya.

Selasa, 17 Maret 2015

Tujuh Belas Maret: Berjingkat


Bismillah, yaa muqolibul quluub tsabit qolbi ala diinik

Doa ini adalah doa yang sering kali saya
ucapkan menuju usia saya yang semakin
dewasa.
Jejak. Ternyata bukan sekedar langkah
yang menyisakan jejak, tapi juga perpisahan yang terjadi dan tidak bisa diingkari dari setiap kehidupan yang dilalui manusia.. Setiap perpisahan akan meninggalkan jejak bagi tokoh-tokohnya baik tersurat atau hanya tersirat dalam benak. Tapi saya yakin walau dalam ketegaran, itu tetap jejak yang ditinggalkan oleh subjek atau objek
perpisahan.
Begitu pun dengan saya, 20 tahun
menginjakkan kaki di muka bumi, begitu
banyak perpisahan yang sudah terjadi
dalam hidup saya, termasuk tentangmu

Ya, kembali membahas tentang “mu” yang mungkin kau pun tak kan tau bahwa itu adalah namamu..
Bagi saya perpisahan adalah konsekuensi
yang harus kita terima, ketika memilih
bertemu. Bagi saya perpisahan adalah rencana yang tlah dituliskanNya, tanpa kita tau kapan terjadinya tentangmu dan tentang perpisahan..
Dari awal bertemu, perpisahan denganmu
adalah hal yang paling saya fikirkan, bukan karena kamu menyebalkan atau itu yang saya harapkan, tapi keyakinan saya bahwa saya berada diruang yang tak sama denganmu. Mungkin kau takkan tau, ya karena pikiran ini hanya ada di benak saya, tanpa ucap, dan tanpa sikap.
Pertanyaan ini yang selalu ada, “Kapankah waktu itu tiba, ketika
memang perpisahan itu akan terjadi?” beberapa tahunkah? satu tahun yang akan datang? dalam hitungan minggukah? atau esok? atau hari ini? atau..
saya hanya menghibur diri walau
sebenarnya perpisahan itu telah terjadi?
Mungkin terlihat konyol ketika saya sangat menghitung kapan perpisahan itu akan terjadi, percayalah bukan karena kesalahan atau sikap-sikapmu, tetapi karena saya sedang mempersiapkan diri,
atau lebih tepatnya menguatkan diri, karena saya akui saya bukan seorang yang tangguh menghadapi sebuah perpisahan.
Sebelumnya saja kamu sudah berhasil
membuat saya beberapa kali menangis,
tanpa perpisahan, dan yang pasti tanpa kamu ketahui.. Lalu bagaimana jika karena perpisahan denganmu?
Tapi percayalah saya takkan pernah
membencimu, hanya karena kita pernah
bertemu. Karena ada nikmat yang Allah
anugerahkan setiap kita bertemu dengan
seseorang dihadapan kita, termasuk saya
yang memilih bertemu denganmu.
Percayalah kamu telah mengajarkan banyak hal pada saya, sangat banyak tentang hidup ini, tentang rasa yang harus bisa saya kendalikan setiap bertemu denganmu, atau tentang tangis yang harus saya tahan tentang luka itu, atau tentang perempuan yang tegas yang harus saya tekuni, karena memang saya bukan seseorang yang tegas dimatamu.
Karena hidup ini kan terus berjalan kau
dengan hidupmu, dan tentunya saya dengan hari-hari kedepan yang harus saya lalui. Jika perpisahan itu telah terjadi, saya yakin banyak yang tak lagi sama dalam hari-hari ini, tapi tak perlu kau dan aku bersedih karena kebaikan harus tetap dipaksakan, semoga Allah membalas usaha ini untuk
tetap menjaga diri.
Jika perpisahan itu telah terjadi, jangan
takut jika air mata saya akan
mengganggumu, saya sudah berjanji untuk lebih dewasa menerima semua yang terjadi, termasuk tentangmu. Jangan takut bahwa saya akan menggangumu, karena pada saat
yang sama saya akan belajar egois untuk tidak memikirkanmu.
Kembali tentangmu, mungkin hanya bisik
terimakasih yang kutuliskan dalam catatan ini. Terimakasih atas jejak yang telah kamu berikan dalam hidup saya, mungkin akan saya ceritakan pada seseorang di masa yang akan datang siapa namamu, tapi maaf
tidak untuk saat ini.
Terdiam, dan saya tersadar, jika mungkin ini adalah jawab dari doa yang saya pinta diatas. Bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk kebaikanmu. Karena hanya Allah sang penguasa hati, karena dipundak ini ada jalan perjuangan yang menanti semangat kita hingga suatu hari tiba ketika hak rasa ini sudah pantas, pada siapapun yang dipasangkannya untuk kita..

Sampai jumpa. Semoga Allah menjagamu.

Rabu, 11 Maret 2015

Sebelas Maret: Aku Merindukanmu Sebentar

Aku adalah peziarah pada pagi, dan pada kenangan-kenangan kita yg mati. Dan kamu, adalah doa-doa hangat yg
mengiringi. Selayak cahaya pagi, sapa katamu adalah pelukan terhangat bagi hati. Seperih apapun rindu, sepanjang itu teruntukmu, akan selalu membahagiakanku.
Yang lebih jauh dari jarak adalah
kenangan-kenangan yg kita lewatkan.

Betapapun kesakitan yg kepergian
tinggalkan, pertemuan yg tak kunjung datang akan selalu lebih nyeri.

Bulir-bulir dingin yg pagi hantar, tak pernah cukup membekukan luka-luka yang kau tinggalkan.

Kadang kenangan seperti kopi. Sempat
hangatkan pagi, lalu terlupakan di siang hari. Datang lagi kala dingin malam
menghampiri.

Karena padamu, hati telah terpaku. Dalam merindumu, hati tak kenal ragu-ragu.

Malam makin larut, rindu tak makin
surut. Bagiku, tidur adalah satu saat aku bisa bersamamu. Lalu terbangun, dengan rasa ingin mengulang-ulang mimpi.
Segala malam tanpa adamu hanyalah bintang-bintang redup, semua rindu
tanpa sambutmu hanyalah luka-luka tak tertutup.
Dalam lari-lari kecil mentari, pagi
merapikan sisa mimpi. Dalam halus-halus
lantun doa, pagi menguatkan rapuh cinta. Pada dingin yg memeluk pagi, dalam rindu-rindu yg menemani, sesungguhnya cinta tak pernah sendiri.
Yang menyebalkan dari cinta, adalah butuh ribuan pagi untuk sembuhkan
luka. Datanglah malam, membawa kenangan- kenangan. Menyeret rindu jauh kedalam. Hingga tak sadar, cinta sudah karam. Kepadamu, cinta ku kirim dengan segala. Kepadaku, cinta pulang tanpa apa-apa.

Langit temaram menjadi rumah bagi tiap kerinduan. Lalu bayang-bayang wajahmu beradu dalam kesunyian malam.

Merindumu itu nadi. Mencintaimu adalah
nyali. Jangan paksa aku hidup tanpa
keduanya.

Dalam jejak jejak rindu, aku selalu
menemukanmu. Dari kejauhan
pandangmu pun, tak ada aku. Aku sendiri yg akan melumat pelukanmu,
pada erat erat jemariku, memecahkan
rindu.
Aku tak pernah pandai merindumu saat
malam. Tanya gemintang, berapa dalam
luka-luka yang harus ku sembuhkan.
Malam adalah halaman terakhir dari
waktu, dari menunggumu. Namun rindu,
selalu membuat halaman baru.
Menunggumu itu seperti sebuah lagu,
adalah nada-nada rindu yg lembut
bermain dalam keheningan malam.
Barangkali, pagi hanyalah cara langit
mengobati lukanya sendiri, berlari dari
gelap yg hangat tinggal pergi.
Biar aku cicipi manis senyummu sebangun pagi, sebelum sepahit-pahitnya rindu menghinggapiku sepanjang hari.
Dalam pagiku, selalu ada ucap doa-doa,
mengharapmu untuk mencinta, bilapun
tidak, mengharapmu bahagia
Harusnya rindu seperti itu embun,
memeluk erat-erat pada daun, hangatkan beku hatimu lambat laun.
Kecuali ada sapamu, dingin pagi adalah
rindu yg paling nyeri. Sedalam-dalam kamu menyelami sajakku, rindu selalu lebih besar dari itu.

Menyembuhkan patah hati, tak semudah bangun pagi lalu minum kopi.
Yang datang pergi adalah malam dan
pagi. Yang abadi adalah sakit saat kau
mengucap pergi.

Dalam hati yg lama tak bercengkerama, rindu tak pernah sebentar.

Jumat, 06 Maret 2015

Enam Maret: Ritual Sakral

Kuputar mataku di depan layar berukuran empat setengah inchi, bertanya-tanya dimanakah sekarang sosok di seberang sana? Deretan abjad berdesakan untuk menempati kolom seratus enam puluh karakter ini, sampai jarum jam kurasa hilang kendali pada geraknya. Aku benci untuk menerka, namun tak sudi pula berdrama layaknya tidak ada apa-apa, tidak ada tanda tanya.
Kucuri waktu lelap sekejap, untuk sekedar mengintip kalau-kalau ada tegurmu yang tidak ingin kulewatkan, meski seringnya aku terhempas pada kenyataan bahwa hari ini pesanmu sudah berakhir, kemudian dengan berat rasa aku kembali sembunyi di bawah dinginnya selimutku.
Kulakukan berulang seperti itu, ritual sebelum tidurku.

Solo, di atas pulau pejamku, teruntuk yang sedang meretas lelah dalam lelap

Kamis, 05 Maret 2015

Lima Maret: Langkah Perempuan(mu)

Sesorean melangkah kakiku
Tidak sekadar satu-dua depa
Tak lain ialah kilometer kutapaki
Demi bertemu engkau, memeluk engkau, dalam sendiri
Aku melakukan sesuatu saat engkau tiada
Aku mentintaimu dengan tulisan latin
Kemudian kutuliskan surat serupa wajahmu
Kalau-kalau suaraku tak jua menembus gendang telingamu
Sekali lagi kubaca goresan itu
Dan getar itu kembali sampai pada laik kau yang pertama kali kutemui
Namun derapku kini tiada lagi lurus kepada engkau
Dan rasa yang kutafsir tak lagi bermuara pada engkau
Sebab ada waktu dimana rasaku kikis serta tabahku ranggas untuk memuja
Sebab aku terbiasa pada kecewa
Dan pelan-pelan kutabahkan
Hatiku harapku
Sejak lalu, sejak aku menikah
Dengan rindu

Solo, untuk lelaki bercula satu

Selasa, 24 Februari 2015

Dua Puluh Empat Februari: Pitam


Bendungku mual lagi, siap muntah
Lirih parah, tanpa arah
Tak ada katup, tiada ampun
Emosi tuntun beruntun

Semua menggoda, rusak tiang jiwa
Terkikis merah membara
Kucoba merapal mantra
Kuharap tenang jiwa

Senin, 23 Februari 2015

Dua Puluh Tiga Februari: Kunamai Bintang


Kunamai bintang itu, namamu, dimana disitu kutemui binar tatapmu, kumalami setiap pendarnya dengan kedua tanganku yang terbuka. Dan kemudian kujelajah masa depan kita dengan doa, kupintal segala kecemasan saat semua rasa diremas erat dengan dekap itu, rindu. Seluruhmu, ialah partikel yang berkaitan dengan padu. Tentang bagaimana pribadi keras hati juga kedewasaan diri yang kemudian Tuhan mengemasnya dengan kilauan pesona, hingga hatiku tergetar olehnya.
Wahai selaksa yang kudamba dan padanya harapku bermuara, biar kusisipkan setiap gurat senyummu dalam sakuku, dan kugelar dengan rapih setiap kali aku hilang kendali serta kuasa untuk menunggu. Ulurkan kelipmu mengiring setiap gontaiku, aku dan tatihku menujumu sampai genggamku dan genggamu jadi satu.
Kunamai bintang itu, namamu. Agar aku tidak sepi, setiap kali matahari bergegas pulang ke peraduannya. Kita isi makna indahnya hari ini. Jadilah pijar, lentera hidupku. Berkeliplah, agar aku tau dimana beradamu. Pahami aku saat menangis di saat seluruh dunia jahat padaku. Dan kita isi semesta kita bersama-sama.
Maka biarkan, kunamai bintang itu, namamu. Bintang yang tinggi di atas sana. Yang begitu indah di setiapku memandangnya, namun saat itu pula kusadari,  juga begitu jauh untuk kedua tanganku ini merengkuhnya. Haruskah? Aku -perempuan ini- terbang ke atas sana untuk menggapainya?

Senin, 16 Februari 2015

Enam Belas Februari: Jeda Lelahmu

Teruntukmu yang sedang berlelah..
semoga engkau mengingat perempuan – aku yang merindukanmu
Kalau-kalau iya, dibanyaknya waktu
berlelahmu
Sedikit saja kau jeda, waktumu untukku
Iya, hanya kalau-kalau sempat waktumu
***
berlelahmu — ialah semua kepentinganmu, kebahagianmu, kesenanganmu, kesibukanmu, dan segala yang di luar aku.

Senin, 09 Februari 2015

Sembilan Februari: Something I Should Fight For


Dear you-whoever-spend-your-priceless-time-here, It's been a long time since I decided to bury all my thoughts. Wow, I can't believe I can survive in here for almost one year, I'm surprising myself. I remember when I was only two months here, feels like I'm gonna throw this apron and just turn my body back. Those times are definitely the hardest. I have to be comfort in that situation which don't make me comfort at all. You know, I was really sick of that. But suddenly a power comes to me. I don't know where it comes from. It just does exist, Thank God. I could imagine all my dreams, slowly but clearly, I can touch them. And I realise, this place is my milestone.
Yes. This is His fate.
Enjoy it, survive, I believe that good job isn't always about good boss, good salary, or good jobdesks, but good friends are the most important thing and that was hard to be found.
Unfortunately.
I was too enjoying, too comfort till the the time passes it by.
After those "exams" and these "glories", after I took many lessons here, I can hear God say, "Turn back, you'll find the better path!".
To be honest,
I'm,
So,
Dissapointed...
Every step I take has to be stopped right now, why my heart it changes so fast? Why I can't even smile when I can get out from this place?
Now, remembering my memories in here is like sticking glues to my "memory paper". Getting sticky. Increasingly difficult to be released.
I can remember their jokes. I can remember how's the rain outside the canteen's window and how it sounds. I can remember how tiring weekend is.  I can remember how tasty a slice of toast bread with cappucino glaze on it. I can remember how full the canteen at 5 pm. I can remember how Mrs. Sharon bullied us with her mature thoughts. I can remember how shrewish Mrs. Eki is. I can remember how funny Mr. Yudi with his girly jokes. I can remember how's the way I argue with Mrs. Widya inside the bakery area. I can remember how's the shape of Soni's abs. I can remember how busy inventory is.
Damn.
I love them too much.
I can't handle it.
Can I go back to 2014, 10th of May?
I don't want to ended up being like this. Disgusting...
There's too many handwrites in here which I can't erase them.
Life must go on, because time flows.
And far in there, maybe there's a new place for me which I should fight for.
Maybe there's something which I should pray for.
Happiness. That's what I do for.
I'm tough. I'm strong.

Kamis, 22 Januari 2015

Dua Puluh Dua Januari: Dari Srikandhi

Sikap, sifat dan keteguhan serta keperkasaan seorang wanita ada didalam diri Srikandi.
Bukan seperti Gayatri yang menyembunyikan kepintaran dan kecakapannya melalui tangan Gadjah Mada.
Dan juga bukan Kartini yang bagai putri pemalu serta penuh dengan hasrat kewanitaan untuk mencapai kesetaraan lewat tulisan - tulisan indah.
Srikandi cerminan emansipasi wanita.
Srikandi adalah sosok wanita yang tampil maju dan cemerlang tak kalah dari Arjuna.
Srikandi sosok wanita pembanding Arjuna.
Walau Arjuna mempunyai 41 istri, tetap Srikandi sosok yang paling dipuji. Tak lengkap rasanya
menceritakan Arjuna tanpa kehadiran Srikandi.

Srikandi adalah kesetaraan gender yang digadang-gadang wanita masa kini. Padahal, Srikandi telah memutus mata rantai bahwa wanita selalu dibawah kaki laki-laki sejak zaman sastra India mencapai tanah bumi
pertiwi.