Senin, 20 April 2015

Dua Puluh April: Ini Panggungmu


Akhirnya aku tersenyum lagi, senyum yang kecil, senyum yang sama yang pernah kulempar di saat aku tahu bahwa aku memang tidak pernah pantas diperjuangkan. Seharusnya
aku lebih berekspresi, sebab kebohongan ini amat menyentak.

Aku ingin melangkah mundur sambil memberimu tepuk tangan. Kau hebat. Ini panggungmu.
Tempatmu lihai bersandiwara, sementara aku terlampau merasakanmu.

Terkadang, pengakuan adalah pukulan yang telak. Terima kasih, setidaknya setelah kau mengakuinya, kau tidak lagi menyangkal.
Sekarang aku harus bagaimana? Kenyataannya ternyata, hatiku yang berbicara dengan otakmu dan orang terlanjur bilang kita cocok.
Sial.

Aku tidak tahu harus bagaimana sekalipun dimataku kau yang salah. Orang yang salah patut dihukum sebelum pintu maaf terbuka lebar.
Namun hukuman apa yang pantas
untuk pembohong? Beri tahu aku apa!
Aku tidak mungkin hanya sekadar menghujan sumpah, sebab kata-kata kutuk tidak seharusnya keluar dari mulutku.

Aku takut kau menyesal. Mungkin suatu hari, saat kau telah menggenggam segala inginmu, kau hanya akan bertanya aku di mana, sambil menyiksa dirimu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar