Senin, 20 April 2015

Dua Puluh April: Ini Panggungmu


Akhirnya aku tersenyum lagi, senyum yang kecil, senyum yang sama yang pernah kulempar di saat aku tahu bahwa aku memang tidak pernah pantas diperjuangkan. Seharusnya
aku lebih berekspresi, sebab kebohongan ini amat menyentak.

Aku ingin melangkah mundur sambil memberimu tepuk tangan. Kau hebat. Ini panggungmu.
Tempatmu lihai bersandiwara, sementara aku terlampau merasakanmu.

Terkadang, pengakuan adalah pukulan yang telak. Terima kasih, setidaknya setelah kau mengakuinya, kau tidak lagi menyangkal.
Sekarang aku harus bagaimana? Kenyataannya ternyata, hatiku yang berbicara dengan otakmu dan orang terlanjur bilang kita cocok.
Sial.

Aku tidak tahu harus bagaimana sekalipun dimataku kau yang salah. Orang yang salah patut dihukum sebelum pintu maaf terbuka lebar.
Namun hukuman apa yang pantas
untuk pembohong? Beri tahu aku apa!
Aku tidak mungkin hanya sekadar menghujan sumpah, sebab kata-kata kutuk tidak seharusnya keluar dari mulutku.

Aku takut kau menyesal. Mungkin suatu hari, saat kau telah menggenggam segala inginmu, kau hanya akan bertanya aku di mana, sambil menyiksa dirimu sendiri.

Senin, 06 April 2015

Enam April: inujieh

Semoga, ada sedikit ruang kosong di dalam hatimu untuk maafku
Ini aku, berdiri dihadapanmu menelan kesombonganku
Selayaknya pendosamu
Bahwa mungkin akulah penyebab luka-luka menganga di hatimu itu
Pantas? Tentu aku pantas
Aku pantas untuk kauserang dengan kecewamu, aku pantas kaulebur dalam amarahmu
Aku mungkin melukai harga dirimu
Dan akan melukai banyak lagi padamu
Jadi sebelum kepingan itu semakin tergerus dan tentu takkan terpugar lagi
Dengan tangan terbuka, terimalah rasa bersalahku ini
Dan setelah itu, kedua kakimu bisa bebas berlalu dariku, kemanapun, kau suka
Aku dan dosaku yang kutebar dengan suka cita
Bahwa mungkin saat itu akulah yang terlihat paling bahagia menginjak harapmu
Aku menyesal
Terimakasih untuk selalu ada dibelakangku
Semoga bahagia selalu menyertaimu