Kamis, 26 Maret 2015

Dua Puluh Enam Maret: Deja Vu

Malam. Balkon gedung. Alat make up berserakan. Alis penyihir. Laki-laki cantik. Udara dingin. Bulan bintang mengintai. Gelak dalam jejak. Gendongan di punggung kecil. Sampai larut.
---
Pagi hari. Dua pasang sepatu olahraga. Berlarian. Berkejaran. Sinar matahari menyengat. Berburu talok. Terpingkal sepanjang jalan. Lelah. Gardu tingkat ketiga. Berbagi sebelah earphone. Mendengarkan musik bersama.

Indah, ya.

Selasa, 17 Maret 2015

Tujuh Belas Maret: Berjingkat


Bismillah, yaa muqolibul quluub tsabit qolbi ala diinik

Doa ini adalah doa yang sering kali saya
ucapkan menuju usia saya yang semakin
dewasa.
Jejak. Ternyata bukan sekedar langkah
yang menyisakan jejak, tapi juga perpisahan yang terjadi dan tidak bisa diingkari dari setiap kehidupan yang dilalui manusia.. Setiap perpisahan akan meninggalkan jejak bagi tokoh-tokohnya baik tersurat atau hanya tersirat dalam benak. Tapi saya yakin walau dalam ketegaran, itu tetap jejak yang ditinggalkan oleh subjek atau objek
perpisahan.
Begitu pun dengan saya, 20 tahun
menginjakkan kaki di muka bumi, begitu
banyak perpisahan yang sudah terjadi
dalam hidup saya, termasuk tentangmu

Ya, kembali membahas tentang “mu” yang mungkin kau pun tak kan tau bahwa itu adalah namamu..
Bagi saya perpisahan adalah konsekuensi
yang harus kita terima, ketika memilih
bertemu. Bagi saya perpisahan adalah rencana yang tlah dituliskanNya, tanpa kita tau kapan terjadinya tentangmu dan tentang perpisahan..
Dari awal bertemu, perpisahan denganmu
adalah hal yang paling saya fikirkan, bukan karena kamu menyebalkan atau itu yang saya harapkan, tapi keyakinan saya bahwa saya berada diruang yang tak sama denganmu. Mungkin kau takkan tau, ya karena pikiran ini hanya ada di benak saya, tanpa ucap, dan tanpa sikap.
Pertanyaan ini yang selalu ada, “Kapankah waktu itu tiba, ketika
memang perpisahan itu akan terjadi?” beberapa tahunkah? satu tahun yang akan datang? dalam hitungan minggukah? atau esok? atau hari ini? atau..
saya hanya menghibur diri walau
sebenarnya perpisahan itu telah terjadi?
Mungkin terlihat konyol ketika saya sangat menghitung kapan perpisahan itu akan terjadi, percayalah bukan karena kesalahan atau sikap-sikapmu, tetapi karena saya sedang mempersiapkan diri,
atau lebih tepatnya menguatkan diri, karena saya akui saya bukan seorang yang tangguh menghadapi sebuah perpisahan.
Sebelumnya saja kamu sudah berhasil
membuat saya beberapa kali menangis,
tanpa perpisahan, dan yang pasti tanpa kamu ketahui.. Lalu bagaimana jika karena perpisahan denganmu?
Tapi percayalah saya takkan pernah
membencimu, hanya karena kita pernah
bertemu. Karena ada nikmat yang Allah
anugerahkan setiap kita bertemu dengan
seseorang dihadapan kita, termasuk saya
yang memilih bertemu denganmu.
Percayalah kamu telah mengajarkan banyak hal pada saya, sangat banyak tentang hidup ini, tentang rasa yang harus bisa saya kendalikan setiap bertemu denganmu, atau tentang tangis yang harus saya tahan tentang luka itu, atau tentang perempuan yang tegas yang harus saya tekuni, karena memang saya bukan seseorang yang tegas dimatamu.
Karena hidup ini kan terus berjalan kau
dengan hidupmu, dan tentunya saya dengan hari-hari kedepan yang harus saya lalui. Jika perpisahan itu telah terjadi, saya yakin banyak yang tak lagi sama dalam hari-hari ini, tapi tak perlu kau dan aku bersedih karena kebaikan harus tetap dipaksakan, semoga Allah membalas usaha ini untuk
tetap menjaga diri.
Jika perpisahan itu telah terjadi, jangan
takut jika air mata saya akan
mengganggumu, saya sudah berjanji untuk lebih dewasa menerima semua yang terjadi, termasuk tentangmu. Jangan takut bahwa saya akan menggangumu, karena pada saat
yang sama saya akan belajar egois untuk tidak memikirkanmu.
Kembali tentangmu, mungkin hanya bisik
terimakasih yang kutuliskan dalam catatan ini. Terimakasih atas jejak yang telah kamu berikan dalam hidup saya, mungkin akan saya ceritakan pada seseorang di masa yang akan datang siapa namamu, tapi maaf
tidak untuk saat ini.
Terdiam, dan saya tersadar, jika mungkin ini adalah jawab dari doa yang saya pinta diatas. Bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk kebaikanmu. Karena hanya Allah sang penguasa hati, karena dipundak ini ada jalan perjuangan yang menanti semangat kita hingga suatu hari tiba ketika hak rasa ini sudah pantas, pada siapapun yang dipasangkannya untuk kita..

Sampai jumpa. Semoga Allah menjagamu.

Rabu, 11 Maret 2015

Sebelas Maret: Aku Merindukanmu Sebentar

Aku adalah peziarah pada pagi, dan pada kenangan-kenangan kita yg mati. Dan kamu, adalah doa-doa hangat yg
mengiringi. Selayak cahaya pagi, sapa katamu adalah pelukan terhangat bagi hati. Seperih apapun rindu, sepanjang itu teruntukmu, akan selalu membahagiakanku.
Yang lebih jauh dari jarak adalah
kenangan-kenangan yg kita lewatkan.

Betapapun kesakitan yg kepergian
tinggalkan, pertemuan yg tak kunjung datang akan selalu lebih nyeri.

Bulir-bulir dingin yg pagi hantar, tak pernah cukup membekukan luka-luka yang kau tinggalkan.

Kadang kenangan seperti kopi. Sempat
hangatkan pagi, lalu terlupakan di siang hari. Datang lagi kala dingin malam
menghampiri.

Karena padamu, hati telah terpaku. Dalam merindumu, hati tak kenal ragu-ragu.

Malam makin larut, rindu tak makin
surut. Bagiku, tidur adalah satu saat aku bisa bersamamu. Lalu terbangun, dengan rasa ingin mengulang-ulang mimpi.
Segala malam tanpa adamu hanyalah bintang-bintang redup, semua rindu
tanpa sambutmu hanyalah luka-luka tak tertutup.
Dalam lari-lari kecil mentari, pagi
merapikan sisa mimpi. Dalam halus-halus
lantun doa, pagi menguatkan rapuh cinta. Pada dingin yg memeluk pagi, dalam rindu-rindu yg menemani, sesungguhnya cinta tak pernah sendiri.
Yang menyebalkan dari cinta, adalah butuh ribuan pagi untuk sembuhkan
luka. Datanglah malam, membawa kenangan- kenangan. Menyeret rindu jauh kedalam. Hingga tak sadar, cinta sudah karam. Kepadamu, cinta ku kirim dengan segala. Kepadaku, cinta pulang tanpa apa-apa.

Langit temaram menjadi rumah bagi tiap kerinduan. Lalu bayang-bayang wajahmu beradu dalam kesunyian malam.

Merindumu itu nadi. Mencintaimu adalah
nyali. Jangan paksa aku hidup tanpa
keduanya.

Dalam jejak jejak rindu, aku selalu
menemukanmu. Dari kejauhan
pandangmu pun, tak ada aku. Aku sendiri yg akan melumat pelukanmu,
pada erat erat jemariku, memecahkan
rindu.
Aku tak pernah pandai merindumu saat
malam. Tanya gemintang, berapa dalam
luka-luka yang harus ku sembuhkan.
Malam adalah halaman terakhir dari
waktu, dari menunggumu. Namun rindu,
selalu membuat halaman baru.
Menunggumu itu seperti sebuah lagu,
adalah nada-nada rindu yg lembut
bermain dalam keheningan malam.
Barangkali, pagi hanyalah cara langit
mengobati lukanya sendiri, berlari dari
gelap yg hangat tinggal pergi.
Biar aku cicipi manis senyummu sebangun pagi, sebelum sepahit-pahitnya rindu menghinggapiku sepanjang hari.
Dalam pagiku, selalu ada ucap doa-doa,
mengharapmu untuk mencinta, bilapun
tidak, mengharapmu bahagia
Harusnya rindu seperti itu embun,
memeluk erat-erat pada daun, hangatkan beku hatimu lambat laun.
Kecuali ada sapamu, dingin pagi adalah
rindu yg paling nyeri. Sedalam-dalam kamu menyelami sajakku, rindu selalu lebih besar dari itu.

Menyembuhkan patah hati, tak semudah bangun pagi lalu minum kopi.
Yang datang pergi adalah malam dan
pagi. Yang abadi adalah sakit saat kau
mengucap pergi.

Dalam hati yg lama tak bercengkerama, rindu tak pernah sebentar.

Jumat, 06 Maret 2015

Enam Maret: Ritual Sakral

Kuputar mataku di depan layar berukuran empat setengah inchi, bertanya-tanya dimanakah sekarang sosok di seberang sana? Deretan abjad berdesakan untuk menempati kolom seratus enam puluh karakter ini, sampai jarum jam kurasa hilang kendali pada geraknya. Aku benci untuk menerka, namun tak sudi pula berdrama layaknya tidak ada apa-apa, tidak ada tanda tanya.
Kucuri waktu lelap sekejap, untuk sekedar mengintip kalau-kalau ada tegurmu yang tidak ingin kulewatkan, meski seringnya aku terhempas pada kenyataan bahwa hari ini pesanmu sudah berakhir, kemudian dengan berat rasa aku kembali sembunyi di bawah dinginnya selimutku.
Kulakukan berulang seperti itu, ritual sebelum tidurku.

Solo, di atas pulau pejamku, teruntuk yang sedang meretas lelah dalam lelap

Kamis, 05 Maret 2015

Lima Maret: Langkah Perempuan(mu)

Sesorean melangkah kakiku
Tidak sekadar satu-dua depa
Tak lain ialah kilometer kutapaki
Demi bertemu engkau, memeluk engkau, dalam sendiri
Aku melakukan sesuatu saat engkau tiada
Aku mentintaimu dengan tulisan latin
Kemudian kutuliskan surat serupa wajahmu
Kalau-kalau suaraku tak jua menembus gendang telingamu
Sekali lagi kubaca goresan itu
Dan getar itu kembali sampai pada laik kau yang pertama kali kutemui
Namun derapku kini tiada lagi lurus kepada engkau
Dan rasa yang kutafsir tak lagi bermuara pada engkau
Sebab ada waktu dimana rasaku kikis serta tabahku ranggas untuk memuja
Sebab aku terbiasa pada kecewa
Dan pelan-pelan kutabahkan
Hatiku harapku
Sejak lalu, sejak aku menikah
Dengan rindu

Solo, untuk lelaki bercula satu