Hujan reda,
tapi tidak dengan dinginnya,
tidak dengan genangannya
Sama seperti kita,
Mereda,
tapi tidak dengan kenangannya,
tidak dengan rindunya
Hujan reda,
tapi tidak dengan dinginnya,
tidak dengan genangannya
Sama seperti kita,
Mereda,
tapi tidak dengan kenangannya,
tidak dengan rindunya
Bagaimana aku akan belajar tentang ikhlas dari sebuah kepergian, sedang kau tak pernah benar-benar pergi kecuali hanya seperti meniadakanku.
Pernah beberapa kali ku berfikir kau telah pergi dan meninggalkanku, tapi setelahnya begitu jelas kau hadir dalam ingatanku dan di waktu-waktu tertentu kau mampu mendetakkan kembali jantungku, hingga membangunkan harapanku yang telah coba kutabahkan..
Lalu pertanyaanku, seberapa akan
sakitkah dada ketika sebuah kepergian terjadi?
Iya, sebab aku tak pernah merasakannya darimu, sehingga aku tak tahu rasanya seperti apa, yang aku tahu dari rasa sakit adalah hanya sebuah kepergian yang tak pernah terjadi namun nyaris seperti tiada.
Atau seperti rasa sakit, dari harapan-harapan yang sepertinya kekosongan belaka.
Nilai sakit dari sebuah kepergian, seperti yang sudah-sudah hanyalah sebuah sakit yang akan mengajarkan bagaimana menabahkan hati lalu mengikhlaskan
seseorang.
Tapi bagaimana dengan sebuah kepergian yang tiada namun ada?
Lebih dari sekedar luka atas kepergian, ia tak hanya mengajarkanku tentang ketabahan atau pun keikhlasan, namun uji akan kesetiaan dan besarnya arti pengorbanan menjadi nilai tersendiri pada keadaan ini.
Iya, seberapa pun jauh kau mencoba pergi dan mengabaikanku, cinta selalu menahanku untuk tetap menunggu kepulangan hatimu.
Namun jika kau benar-benar ingin pergi, cukup kau genggam hatiku. Lalu katakanlah kau tak sungguh-sungguh mencintaiku. Maka mengikhlaskan kepergianmu akan sama mudahnya mengikhlaskan kepergian-kepergian kemarin.
Sebab kau tahu, cinta selalu memberi ruang kebebasan kepada yang dicintainya, hanya cukup kau ungkapkan, maka terjadilah..
Untuk setia, cinta terkadang tak butuh balasan..
Karenanya bahkan kepergianmu takkan pernah membuat cintaku meninggalkanmu..
Kau boleh pergi, dan aku boleh ikhlaskanmu.
Tapi cintaku akan setia mendoakanmu.
Menghirup oksigen yang sama
Tertawa dengan tata-cara serupa
Berlari,
Seperti dikejar rasa takut sendiri
Spontan,
Kau berlari sendiri tak lagi temani
Tak berbakat aku mengucapkan perpisahan
Tak biasa pula aku ditinggalkan
Bolehlah... kau tertawa
Tapi tak usah kesana
Apakah duka bisa disampaikan dalam bentuk kata-kata?
Sudahlah
Adakah wadah disana untuk menampung maknanya
Hingga tak perlu kau kesepian
Apa pula kesakitan
Selamat pulang,
Kematian tak dapat menghapus janji,
Yang sudah dulu punya eksistensi,
bernama,
kita