Senin, 20 Juli 2015

Dua Puluh Juli: Coret

Tuhan, hamba-Mu ini sedikit lelah, dengan hatinya, dengan hidupnya. Hari-hari yang menggulung penuh gelombang pasang. Penat untuk setiap harinya yang pernah ia harap akan baik-baik saja. Lelah mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, namun ia menolak dan tidak bisa lagi untuk menunduk kebawah. Baru ia sadari, bahwa sesungguhnya ini benar-benar tidak akan pernah mudah.
Ia lemah untuk menegakkan nafas dalam setiap coba-Nya. Hujan selalu saja berhasil mengoyaknya, menjadi kepingan manusia kecil yang hina. Silih berganti, bertubi-tubi.
Tuhan.
Ia hanya makhlukmu yang berselimut kulit ari. Manusia yang terpaling lemah dihadap-Mu. Adakah jalan terang menuju-Mu untuknya?


Minggu, 12 Juli 2015

Dua Belas Juli: Tiada


Sayangnya kau tak sejalan bersamaku siang terik itu, kau sibuk dengan meja kaki empat yang ditimbun judul-judul buku, berlembar-lembar halaman kertas penuh angka berserakan.
Jika ada, akan kuceritakan bagaimana
sinar-sinar kecil matahari merayuku,
mencumbuku dari sela-sela dedaunan
pinus beranting, jika ada akan kuberitahu
bagaimana dia (matahari) membuatkanku seorang teman, teman baik yang mencoba menghiburku dengan menirukan gerakku sedari tadi, menggantikanmu agar aku tak sepi, yang menghitam dan bisu.
Iya,

semua itu jika ada kau.


Sabtu, 04 Juli 2015

Empat Juli: Abu

Kau nampak begitu abu. Aku rasa jika kau
hitam akan lebih mudah bagiku mendepakmu jauh-jauh. Tak perlulah kau mengucap salam padaku. Salam bagimu hanya lintas lalu. Seperti kendaraan yang hilir mudik di jalanan lengang ibukota. Tidak ada yang ditinggalkan kecuali debu dan asap pekat beracun. Seperti itu pula kamu buatku : Racun.
Kau serupa abu namun kehitaman, tak
nampak kilatan-kilatan putih menyerupai larik pada detail garis wajahmu. Tak seperti yang kulihat dikeramaian, wajah-wajah yang terserak nampak putih merona, tapi tidak padamu, kau hitam.
Mungkin raut ibukota jadi oksigen bagi
parumu. Kau akan mati perlahan jika oksigen menghilang.
Lalu bagaimana denganku?
Bukankah aku oksigen bagimu?