Sabtu, 28 Mei 2016

Rabu, 18 Mei 2016

Delapan Belas Mei: Bukan Diriku

Setelah kupahami, ku bukan yang terbaik
Yang ada di hatimu
Tak dapat kusangsikan
Ternyata dirinyalah yang mengerti kamu
Bukanlah diriku ..

Kini maafkanlah aku
Bila ku menjadi bisu kepada dirimu
Bukan santunku terbungkam
Hanya hatiku berbatas 'tuk mengerti kamu
Maafkanlah aku..

Walau ku masih mencintaimu
Ku harus meninggalkanmu
Ku harus melupakanmu
Meski hatiku menyayangimu
Nurani membutuhkanmu
Ku harus merelakanmu

Dan hanyalah dirimu
Yang mampu memahamiku
Yang dapat mengerti aku
Ternyata dirinyalah
Yang sanggup menyanjungmu
Yang ramah menyentuhmu
Bukanlah diriku..

🎧samsons - bukan diriku

Selasa, 17 Mei 2016

Tujuh Belas Mei: Doa

Yang patah akan tumbuh, yang hilang akan berganti
Bertabahlah, aku akan kembali
Karena aku tak ingin jadi tak ada di hatimu

Minggu, 15 Mei 2016

Lima Belas Mei: dari Tere Liye

“Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Ya Tuhan, berat sekali melakukannya…. Sungguh berat, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.”
― Tere Liye, novel "Sunset Bersama Rosie"

Senin, 25 April 2016

Dua Puluh Lima April: Sekali Lagi

Kalau saja aku masih punya kesempatan yang sama. Atau semua yg sudah terjadi bisa terulang lagi. Tapi ternyata kesempatan yang ada hanya sekali.

Sampai kini masih kutunggu datangnya keajaiban. Yang mungkin saja bisa memberiku waktu satu kali lagi. Seandainya masih bisa kudapatkan sekali lagi. Satu kali lagi.

Masih tertunda dan belum semua kukatakan. Biar kutunggu sampai kau kembali lagi di sini. Harus kau dengar semua yang harus kau dengarkan. Isi hatiku yang belum kusampaikan.

Ternyata tak semudah itu keinginan bisa terjadi. Tapi kuberharap semoga masih ada kesempatan
sekali lagi.

🎧Ipang - Sekali Lagi

Sabtu, 23 April 2016

Dua Puluh Tiga April: Sudah

“ Lebih mudah berlari
Mengganti rasa sakit dengan sesuatu yang mati rasa
Lebih mudah untuk pergi
Daripada menghadapi semua rasa sakit ini sendirian”

Jumat, 22 April 2016

Dua Puluh Dua April: Biru

Hari ini masih terlalu pagi
Untuk sekedar mengulur waktu menyempurnakan jumpa kita
Terimakasih semangatnya
Lain kali akan kubalas senyum itu
Aku janji suatu hari nanti

Rabu, 13 April 2016

Tiga Belas April: Semua Kupinta

Kejujuran bukan yang kubutuhkan, pada matamu sudah kutemukan, segala yang tak pernah terkatakan.

Jangan salah mengartikanku, karena tidak ada hari esok untuk memperbaiki kesalahan itu.

Bisakah ini menjadi pelajaran? Ini adalah cara kita untuk saling mengingat. Aku bukan hal kelam atau jahat, dan aku juga tak perlu pengampunan.

Kau yang paling mengerti.
Jika sudah begitu, harus ke siapa lagi aku berlari?

Sabtu, 09 April 2016

Minggu, 27 Maret 2016

Dua Puluh Tujuh Maret: Dilema

Aku sangat sedih, tapi menangis bukan diriku
Aku tidak bisa mengerti diriku sendiri, mana yang lebih baik buatku
Terlalu berbeda, bahkan tubuhku tak terasa seperti tubuhku
Semua perubahan ini
Semua keterasingan ini
Semua yang aku lakukan ialah sama sekali bukan mauku
Aku hanya tidak punya pilihan..

Senin, 21 Maret 2016

Dua Puluh Satu Maret: Lottery

Hidup seperti lotre.
Tinggal menunggu sesuatu keluar dari sana, dan akan kau temui kejutan.
Kebanyakan hal baik, tapi bisa juga buruk, sangat-sangat buruk..
Bagaimana jika, perpisahan?

Sabtu, 05 Maret 2016

Lima Maret: Rahasia

Dinding kamar pandai mendengar
Diam dengan semua cecar
Tapi menyimpan rahasia rapat-rapat
Malam s'lalu lebih seram dari perang

Sabtu, 20 Februari 2016

Dua Puluh Februari:

Disaat rasa memudar benci pun mulai menyelimuti, dan peduli digantikan tega. Haruskah aku melakukan itu hanya untuk menunjukan aku lebih mampu untuk menghancurkanmu dan tak peduli rasa sakit yang mungkin takkan pernah bisa kamu obati?

Kamis, 28 Januari 2016

Dua Puluh Delapan Januari: Sudah

Tak banyak ekspresi cinta yang kau
berikan, tak banyak juga kata terlontar
untuk menasehati kami. Cintamu hening
tapi begitu dalam. Aku tahu itu bapak,
sebagaimana kurasakan ketika engkau
mendekapku.
***
Kini candamu seketika meredup oleh
sedikit uji dari Pemilik kita, engkau yang
pendiam kini semakin terdiam. Ayah, sakit
sekali rasanya melihatmu tertatih hanya
untuk mengucap pinta, sedang justru
fasihnya lidah kelu mu melafadz namaNya
tak bisa menahan laju air mataku. Ayah,
untuk ibuk, untuk anak-anakmu, kuatlah :'(
“Sirnakanlah keluhan wahai Tuhan seluruh
manusia, sembuhkanlah dia, karena
Engkaulah Dzat Penyembuh, tiada
kesembuhan melainkan kesembuhan dari-
Mu, kesembuhan yang tiada menyisakan
rasa sakit — Laa ba sa thohuurun Insya
Allah”

Senin, 25 Januari 2016