Minggu, 20 September 2015

Dua Puluh September: Bahasa Paling Terluka

Bagaimana kabarmu bagi kerinduanku kekasih. Sedang sudah berapa waktu kita tertulis sebagai bukan siapa-siapa. Barangkali ia begitu baik dalam rupanya,
dalam diam-diam menyembunyikan
sesuatu yang samar bagi kesedihanku. Jika saja tanyaku ini menghadirkan
pertanyaan ulang atas kerinduanku,
mungkin tak perlu ku jabar, bahkan
kesedihan telah begitu hafal lafal-lafal
kepedihannya.
Kekasih. Mungkin kau bertanya sampai dimana kini jalan yang ku jejak untuk
meninggalkan kepedihanku, atau telah
sampaikah aku pada kebahagiaan yang
kau maksud sebagai kebahagiaan. Kau
akan tahu kekasih, karena aku tak pernah kemanapun, aku masih di sini. Menulis namamu dalam puisi kerinduanku. Puisi yang setiap hurufnya sukses menyulamkan kesedihan dan kebahagianku di waktu yang sama.
Sebenarnya, tak bermaksudku menutur
pedih ini untuk menarik simpul simpatimu. Tapi segala yang sakit akan semakin meradangkan kepiluanku, ketika kupaksa bekukan dalam pura-puraku.
Hingga tak harus kau membacanya,
seperti ketika kekasihmu menuliskan ejaan romantisme di sudut kebersamaanmu.
Karena sgala yang tertulis dalam puisiku, semua yang tertulis dalam selaksaku hanyalah cara-caraku menuntaskan kerinduan.

Di kerinduanku, ketika sgala yang terfana,
memintaku mendoa…
Di kesakitanku, ketika sgala yang terlihat,
memintaku berharap…
Di kesedihanku, ketika sgala yang terluka,
memintaku bersabar..
Dan di kebahagianku, ketika sgala yang
tersembunyi, memintaku menemukan…
Duhai, aku masih saja menyebutmu
kekasih, di tempat yang tak siapapun bisa
menahanku..
Di setiap bait kataku, yang memintaku
pulang kepadamu…
Di sebuah kerinduan yang menuliskan
bahasa paling terluka..

(di selarik puisiku di tempat ini, aku dan kopi pertama pagi)

Selasa, 08 September 2015

Delapan September: Biar

Baru kemarin kata terucap.

Kupikir Tuan mudah memahaminya.

Nyatanya? Aku masih serupa isapan liur untuk dahagamu

Lemparkan saja kerikil-kerikilmu pada wajahku yang tak lagi memiliki paras.

Aku sudah kebal pada luka yang kau sematkan

Tak ada tatapan matamu yang memberi sinar, apalagi rasamu yang kau akui telah terisi bulir kasih.

Semuanya kosong, Tuan!

Pergilah menjauh. Aku sulit memahamimu, Tuan.

Yang kau beri hanyalah kisah pilu dan lirih yang menyayat