Untuk "kamu" pertamaku.
Ini yang pertama dan yang terakhir.
Bacalah, agar kamu tahu bagaimana aku setelah tanpa mu.
Aku tau kita terlalu cepat mendeklarasikan diri dengan satu ikatan "aku kamu". Saat itu aku lugu, aku duduk di kelas sepuluh dan aku hanya mengenalmu sebagai senior yang aku segani.
Suatu hari aku terusik juga untuk mencari identitasmu setelah membaca beberapa kirimanmu di dinding grup organisasi yang kita naungi bersama, dan tentu jalan satu-satunya adalah jejaring sosialmu. Karena tidak mungkin bagiku bertanya kepada orang lain, aku tidak mau mereka salah mengartikan rasa penasaranku terhadapmu.
Aku memberanikan diri untuk menambahkanmu sebagai teman. Dan segaris senyum tergurat dipipiku saat kulihat konfirmasi darimu. Dan kita mulai berbincang, dengan cukup hangat.
"Eh, iki dek Tutut to?" (Eh, ini dek Tutut ya?"
"Iyo mas. Hehehe" (Iya kak. Hehehe)
Begitu, sederhana, dan rapih.
Rasa penasaranku mulai terbayar hari demi hari, minggu demi minggu, setelah kita bertukar cerita lewat pesan singkat. Dan keramahtamahan dalam bahasamu yang membuatku takjub, aku sungguh tidak tau harus bilang apa.
Kemudian, sedikit demi sedikit, aku mulai merasakan sesuatu di dalam dadaku setiap kali ada pesan darimu di ponselku. Temanku berkata bahwa aku jatuh cinta. Entahlah. Apa kamu juga merasakan hal yang sama. Kak?
Ya.
Kamu juga merasakannya bukan. Merasakan perasaan itu secara alami dan natural yang tiba-tiba hadir tanpa memintaimu ijin.
Dan dugaanku benar adanya.
14 September.
Aku tau ini begitu kekanakan tapi.
Ada cerita baru dalam hidupku saat tiba-tiba kamu memintaku untuk menjadi "kamu" mu. Tapi aku yang masih dengan separuh keraguan meminta kepadamu sedikit waktu.
Apa kamu tau kak? Sebenarnya hari itu aku tidak bisa tidur. Kepalaku terlalu berat untuk terjaga, tapi jantungku tidak. Karena ia terus memompa dengan kecepatan luar biasa. Efeknya terasa seperti kafein yang kuteguk di tiap tiga perempat hari.
17 September.
Aku tau ini begitu kekanakan tapi. Kamu menyebutku "keong" dan aku menyebutmu "beruang".
Beberapa percakapan kita setelahnya sangat menggelikan. Sayang aku sama sekali tidak menyimpan pesan itu, tapi aku masih jelas ingat saat kau mengirimiku pesan, "Aku milikmu, kamu milikku."
Dan itu, membuatku sedikit gelisah.
Benar saja, kegelisahanku jadi kenyataan meski dalam konteks yang berbeda. Aku mulai masuk di lingkaran rasa iri yang begitu dalam, yang orang-orang menyebutnya "cemburu".
Apalagi saat membaca beberapa konversasi yang lagi-lagi kutemui di jejaring sosialmu.
Kamu dan mantanmu.
Ah, masih terasa dingin hatiku sangat mengingatnya. Kamu dan dia, "kamu" mu yang begitu kamu sayangi sampai detik ini. Dia yang begitu kamu ingini jauh sebelum ada aku.
Kak, aku tidak cemburu, atau apalah itu, percayalah. Aku cuma merasa marah, sama seperti saat aku dibohongi. Karena sampai sekarang aku sama sekali tidak membenci dia. Entah itu kesalahan atau keharusan? Kenapa aku tidak membencinya, kak? Karena hari demi hari aku mulai menyadari bahwa aku terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang perasaan. Yang kepadamu dulu aku rasakan.
Kesalahanku saat aku banyak mendengarkan begitu banyak saran dari teman-teman tapi aku tidak mendengar suara hatiku sendiri. Kak, maaf aku salah mengartikan rasa kagum itu.
Dan akhirnya hari itu, tiba juga. Saat aku memberanikan diri untuk menulis garis finish itu dengan kapurku. Dan aku juga sudah memutuskan tidak ada pemenang diantara kita. Karena kita sama-sama berakhir menyedihkan, setidaknya untukku.
Sedikitnya sekian kali kamu memintaku untuk berlari lagi, tapi tidak kak. Penolakanku waktu itu bukan tanpa alasan, juga ucapan keji yang dulu pernah lolos dariku begitu saja. Yang meminta kamu pergi jauh, yang menyuruhmu untuk berhenti menghubungiku lagi, yang... yang tidak sanggup aku katakan lagi karena sekarang itu terdengar sangat keterlaluan. Sikapku jadi tigaratus enampuluh derajat berbeda sejak itu.
Tapi percayalah kak, aku sangat tidak tulus menghardikmu, karena jauh dari fakta itu kamu tetaplah senior yang kuhormati.
Maaf kak, setelah hari-hari itu kamu mungkin begitu terluka karena ucapanku. Pasti sangat sakit, kak. Aku sendiri tidak sanggup membayangkan sakitnya sampai suatu hari aku sadar kamu,
hilang.
Entah lelah atau menyerah, alasanmu. Tapi itu sangat bisa kumengerti. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai saat ini, aku masih seorang "kamu" mu, entah berapa dosa yang dengan rajin malaikat tulis di jurnal hidupku, karena aku selalu membohongimu dengan perasaan semu yang kubuat-buat.
Aku tidak akan bosan untuk meminta maaf, karena namaku dengan bangganya tertulis di sejarah buruk dalam buku ceritamu. Maaf ya, kak.
Dan kamu tidak perlu kuatir, aku tidak pernah mendoakan hal-hal yang buruk kepadamu. Karena aku akan jadi orang paling egois jika benar-benar melakukannya.
Lepas dari cerita itu, hari ini aku ingin berterima kasih kepadamu. Karena kamu memberiku pengalaman yang begitu, mengesankan. Sebab aku mulai bisa mengenali perasaanku sendiri, layaknya perbedaan kagum dan cinta, segan dan suka.
Kak, mulai sekarang jangan ada canggung lagi di antara kita ya, aku masih seorang junior mu yang menghormatimu. Dan juga, biarkan saja cerita ini jadi souvenir yang mengingatkanmu kepadaku saat membacanya.
Terimakasih kak, semoga harimu penuh bahagia.
@kristufreak