Rabu, 30 April 2014

Tiga Puluh April: Kamu Ingin Pulang?

Kau ingin pulang; maka aku menyiapkan sampan dan membangun pulau di dadaku yang samudera.

Kau ingin pulang; maka aku tumbuhkan dahan yang kokoh pada tanganku yang rapuh untuk kau genggam.

Kau ingin pulang; maka aku mencuri gunung lalu kutanam di kakiku yang tak mau diam untuk berdiri kokoh menunggumu berkelana.

Kau ingin pulang; maka aku mengikat angin di kepalaku yang lebih ramai dari waktu untuk
menggiringmu pulang ke pelukanku.

Tiga Puluh April: Layang-Layang Terbang Sendirian

Layang-layang yang terbang sendirian
Di langit kota ini tak ada elang, ia jadi yang paling tinggi menyaingi puncak-puncak gedung pencakar langit.

Ia membelai langit dengan ekornya yang panjang.
Angin adalah kekasihnya.
Yang tak bosan mengayunnya ke sana ke mari.

Tapi angin tak pernah bicara, dan angin tak pernah tinggal.
Layang-layang yang terbang sendirian.
Ia nampak kesepian. Tanpa teman bicara.

Mungkin jika aku bisa menyusulnya, aku akan menagih cerita soal kota dari sudut pandangnya.
Tentang ratusan mobil yang berlalu lalang di bawahnya,
tentang kepala-kepala manusia dengan berbagai kisah dan rahasia di jalanan
sana,
atau tentang apa pun yang tak setiap hari aku lihat dari tempatku.

Aku akan menyuguhkannya kopi dengan cangkir yang ku bawa dari rumah.
Kami akan
piknik di atas sana dan saling bercerita tentang pedih.
Tentang kesempatan bahagia, atau hanya tentang cinta yang itu-itu saja.
Kami akan bercerita sampai kelelahan, lalu aku akan pamit pulang.

Layang-layang akan kembali terbang sendirian.
Dan aku akan kembali menjalani hidupku sendirian.
Seperti layang-layang.

Selasa, 29 April 2014

Dua Puluh Sembilan April: Teman yang Berdiri Paling Depan

Maaf jika lagi-lagi dengan tanpa rasa bersalahku mengusik tenangmu. Maaf jika malam ini aku kembali merindukanmu, teman.

Sebagai orang yang mengenalmu tujuh belas tahun lamanya, seperti satu tambah satu aku mengahafalmu di luar kepala. Kau dengan segala kecerobohanmu. Cerobohmu yang mampu membuat semua orang tertawa terpingkal setengah mati, dan cerobohmu yang membuat kami -sekitarmu merasakan kehilangan sosokmu sampai saat ini.

Hari Minggu. Tanggal lima belas. Bulan september. Tahun dua ribu tiga belas. Malam. Pukul satu lewat tiga puluh menit. Temanku yang tersayang, Erwin Perdana. Meregang nyawanya di trotoar Slamet Riyadi. Ditemukan dalam keadaan koma setelah terpental sekitar sepuluh meter dari kendaraannya yang telah terbelah dua. Anyir.

Malam itu, semua orang berdoa, kamu akan baik-baik saja, Erwin. Tapi diluar dugaan kami, Tuhan, punya jalan lain. Untukmu. Walaupun telah habis dua jam orang-orang berseragam hijau itu berusaha memegang ruhmu kuat-kuat, tetapi Tuhan tidak juga  mengizinkanmu membuka kedua mata. Kamu pasti juga sudah sangat kesakitan saat itu, sehingga mungkin kamu memilih rebah, dengan lelah, dan pasrah.

Pukul tiga lewat tiga puluh menit, samar-samar terdengar, dengkuran cukup keras dari balik ruang UGD mu. Malaikat rupanya sangat tidak sabar ingin segera membawamu pulang, kerumah. Kamu tidak bisa menolak, atau minta dijemput lain hari saja saat kamu sudah merasa puas dengan dunia. Apakah itu rasanya sakit sekali?

Kardiograf itu jadi alarm yang berkebalikan. Yang justru berbunyi saat tiba waktumu harus tidur. Angin malam itu jadi sangat dingin, karena senyum dan canda hangatmu ternyata lebih dulu sudah terbang jauh keatas sana.

Meninggi. Hilang.
Dan tidak terengkuh. Kembali.

Aku sudah tidak punya lagi, anak laki-laki yang berdiri di barisan paling depan saat aku diserang.
Aku sudah tidak bisa lihat lagi, anak laki-laki tanpa rasa malunya dengan hanya handuk oranye berlarian di tengah jalan.
Aku sudah tidak bisa lagi melihat anak laki-laki yang tidak pernah mengatur bicaranya yang sekenanya, itu.

Sebab hari itu aku sudah kehilangan
Seorang teman.
Sekaligus sahabat yang hebat.
Seorang Erwin Perdana.

Ada dan tiadanya kamu, di dunia ini, tidak akan mengubah kenangan masa kecilku yang sangat indah.
Juga, ada atau tiadanya kamu, tidak akan membuatku lupa, bahwa hari itu kita pernah tertawa bersama-sama.

Selamat jalan, teman.
Semoga jalanmu terang.

Senin, 28 April 2014

Dua Puluh Sembilan April: Hujan Punya Cerita Tentang Kita

Hujan Punya Cerita Tentang Kita
Ketika orang lain sibuk mengutuk tentang hujan,
mengambil ponsel lalu bergegas membatalkan janji.
Ramai melihat kelangit dan mengeluarkan mantra,
kutukan bermacam-macam.
Sesegera mungkin menepi di jalan,
mengeluarkan jas, lalu memakainya.
Aku. Entah aku kenapa.
Lebih memilih kehujanan daripada melakukan hal- hal itu.
Aku percaya, hujan adalah salah satu waktu sakral.
Dimana ribuan malaikat menangis,
nikmati hujan, nikmati.
Para petani tersenyum di sana, panennya tak jadi mati.
Para anak kecil bergulung-gulung di tanah, tanahnya tak lagi gersang.
Seorang ibu tersenyum, menaruh kaleng di teras rumah,
untuk minum kopi suaminya esok pagi, katanya lirih.
Tukang ojek payung di depan sebuah mall membatin,
“Anakku bisa makan hari ini”.
Nikmati, nikmati, kenapa tidak sekali merasa kurang nyaman,
atau harus membatalkan janjimu
demi jutaan kebahagiaan di luar sana?

Minggu, 27 April 2014

Dua Puluh Tujuh April: Kini Aku Hanya Bayangan, yang Akan Dilupakan

Kini aku hanya bayangan, yang akan dilupakan.
Sebelumnya kita tak pernah saling mengenal;
tak pernah mengetahui nama,
dan tak pernah mengetahui bagaimana bunyi suara masing-masing dari kita.
Tak pernah juga sebelumnya aku bermimpi bisa mengenal mu;
tak pernah pula berdoa untuk dipertemukan dengan mu,
dan tak pernah berharap untuk bisa melalui hari dengan mu.

Bahwa sesungguhnya kamu pernah menjadi syukur yang tak henti aku panjatkan,
kamu pernah menjadi pencipta dari segala tawa,
dan kamu pun pernah menjadi sosok yang ada saat ku membuka hingga memejamkan mata.
Tapi seketika yang sudah biasa menjadi tak biasa;
tak biasa aku terlalu lama kau biarkan sendiri,
tak biasa aku terlalu lama menunggu hanya untuk sekedar mendapat kabarmu,
dan ini tak biasa, bukan seperti kamu saat pertama kita bertemu muka.
Dan itu adalah awal aku menjadi sebuah bayangan.....

Bersiap pergi dari hati mu meski dengan kaki yang berjinjit,
mengunci rapat mulut ini agar tak ada isak tangis yang terdengar,
menahan sekuat tenaga air mata yang telah penuh di penampungannya,
dan membiarkan hati ini menahan sakit dari segala perpisahan yang akan dimulai.
Berbahagialah kamu...
yang mungkin dulu banyak waktu mu kau habiskan dengan ku, dan itu percuma.
yang mungkin dulu berada kita dalam satu dekapan, dan kini hanya saling merasa
kedinginan.
yang mungkin dulu tertawa dalam ranah canda yang sama, kini tertawa dengan orang yang berbeda.
yang mungkin dulu banyak kisah kita cipta, kini hanya dikenang, diingat, lalu dilupakan.
Dan aku siap, menjadi bagian dari hidupmu dulu, menjadi kenangan dalam ingatanmu,
menjadi bayangan dalam retina matamu,
yang akan kamu lupakan.

Dua Puluh Tujuh April: Bagaimana Aku Setelah Tanpamu

Untuk "kamu" pertamaku.

Ini yang pertama dan yang terakhir.
Bacalah, agar kamu tahu bagaimana aku setelah tanpa mu.

Aku tau kita terlalu cepat mendeklarasikan diri dengan satu ikatan "aku kamu". Saat itu aku lugu, aku duduk di kelas sepuluh dan aku hanya mengenalmu sebagai senior yang aku segani.

Suatu hari aku terusik juga untuk mencari identitasmu setelah membaca beberapa kirimanmu di dinding grup organisasi yang kita naungi bersama, dan tentu jalan satu-satunya adalah jejaring sosialmu. Karena tidak mungkin bagiku bertanya kepada orang lain, aku tidak mau mereka salah mengartikan rasa penasaranku terhadapmu.

Aku memberanikan diri untuk menambahkanmu sebagai teman. Dan segaris senyum tergurat dipipiku saat kulihat konfirmasi darimu. Dan kita mulai berbincang, dengan cukup hangat.

"Eh, iki dek Tutut to?" (Eh, ini dek Tutut ya?"
"Iyo mas. Hehehe" (Iya kak. Hehehe)

Begitu, sederhana, dan rapih.

Rasa penasaranku mulai terbayar hari demi hari, minggu demi minggu, setelah kita bertukar cerita lewat pesan singkat. Dan keramahtamahan dalam bahasamu yang membuatku takjub, aku sungguh tidak tau harus bilang apa.

Kemudian, sedikit demi sedikit, aku mulai merasakan sesuatu di dalam dadaku setiap kali ada pesan darimu di ponselku. Temanku berkata bahwa aku jatuh cinta. Entahlah. Apa kamu juga merasakan hal yang sama. Kak?

Ya.

Kamu juga merasakannya bukan. Merasakan perasaan itu secara alami dan natural yang tiba-tiba hadir tanpa memintaimu ijin.
Dan dugaanku benar adanya.

14 September.
Aku tau ini begitu kekanakan tapi.
Ada cerita baru dalam hidupku saat tiba-tiba kamu memintaku untuk menjadi "kamu" mu. Tapi aku yang  masih dengan separuh keraguan meminta kepadamu sedikit waktu.
Apa kamu tau kak? Sebenarnya hari itu aku tidak bisa tidur. Kepalaku terlalu berat untuk terjaga, tapi jantungku tidak. Karena ia terus memompa dengan kecepatan luar biasa. Efeknya terasa seperti kafein yang kuteguk di tiap tiga perempat hari.

17 September.
Aku tau ini begitu kekanakan tapi. Kamu menyebutku "keong" dan aku menyebutmu "beruang".

Beberapa percakapan kita setelahnya sangat menggelikan. Sayang aku sama sekali tidak menyimpan pesan itu, tapi aku masih jelas ingat saat kau mengirimiku pesan, "Aku milikmu, kamu milikku."
Dan itu, membuatku sedikit gelisah.

Benar saja, kegelisahanku jadi kenyataan meski dalam konteks yang berbeda. Aku mulai masuk di lingkaran rasa iri yang begitu dalam, yang orang-orang menyebutnya "cemburu".

Apalagi saat membaca beberapa konversasi yang lagi-lagi kutemui di jejaring sosialmu.

Kamu dan mantanmu.

Ah, masih terasa dingin hatiku sangat mengingatnya. Kamu  dan dia, "kamu" mu yang begitu kamu sayangi sampai detik ini. Dia yang begitu kamu ingini jauh sebelum ada aku.

Kak, aku tidak cemburu, atau apalah itu, percayalah. Aku cuma merasa marah, sama seperti saat aku dibohongi. Karena sampai sekarang aku sama sekali tidak membenci dia. Entah itu kesalahan atau keharusan? Kenapa aku tidak membencinya, kak? Karena hari demi hari aku mulai menyadari bahwa aku terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang perasaan. Yang kepadamu dulu aku rasakan.

Kesalahanku saat aku banyak mendengarkan begitu banyak saran dari teman-teman tapi aku tidak mendengar suara hatiku sendiri. Kak, maaf aku salah mengartikan rasa kagum itu.

Dan akhirnya hari itu, tiba juga. Saat aku memberanikan diri untuk menulis garis finish itu dengan kapurku. Dan aku juga sudah memutuskan tidak ada pemenang diantara kita. Karena kita sama-sama berakhir menyedihkan, setidaknya untukku.

Sedikitnya sekian kali kamu memintaku untuk berlari lagi, tapi tidak kak. Penolakanku waktu itu bukan tanpa alasan, juga ucapan keji yang dulu pernah lolos dariku begitu saja. Yang meminta kamu pergi jauh, yang menyuruhmu untuk berhenti menghubungiku lagi, yang... yang tidak sanggup aku katakan lagi karena sekarang itu terdengar sangat keterlaluan. Sikapku jadi tigaratus enampuluh derajat berbeda sejak itu.
Tapi percayalah kak, aku sangat tidak tulus menghardikmu, karena jauh dari fakta itu kamu tetaplah senior yang kuhormati.

Maaf kak, setelah hari-hari itu kamu mungkin begitu terluka karena ucapanku. Pasti sangat sakit, kak. Aku sendiri tidak sanggup membayangkan sakitnya sampai suatu hari aku sadar kamu,
hilang.

Entah lelah atau menyerah, alasanmu. Tapi itu sangat bisa kumengerti. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai saat ini, aku masih seorang "kamu" mu, entah berapa dosa yang dengan rajin malaikat tulis di jurnal hidupku, karena aku selalu membohongimu dengan perasaan semu yang kubuat-buat.

Aku tidak akan bosan untuk meminta maaf, karena namaku dengan bangganya tertulis di sejarah buruk dalam buku ceritamu. Maaf ya, kak.

Dan kamu tidak perlu kuatir, aku tidak pernah mendoakan hal-hal yang buruk kepadamu. Karena aku akan jadi orang paling egois jika benar-benar melakukannya.

Lepas dari cerita itu, hari ini aku ingin berterima kasih kepadamu. Karena kamu memberiku pengalaman yang begitu, mengesankan. Sebab aku mulai bisa mengenali perasaanku sendiri, layaknya perbedaan kagum dan cinta, segan dan suka.

Kak, mulai sekarang jangan ada canggung lagi di antara kita ya, aku masih seorang junior mu yang menghormatimu. Dan juga, biarkan saja cerita ini jadi souvenir yang mengingatkanmu kepadaku saat membacanya.

Terimakasih kak, semoga harimu penuh bahagia.

@kristufreak

Jumat, 25 April 2014

Dua Puluh Lima April: Adalah Aku

Aku adalah mantera yang tak kau rapal
Aku adalah tabir yang tak pernah kau singkap
Aku adalah doa yang tak pernah kau amini
Aku adalah lagu yang tak pernah disenandungkan
Aku adalah soal yang tak kau taui jawabnya
Aku kaubiarkan teronggok hampa disudut ruang
Aku berkelambu tembok-tembok tinggi yang sengaja kau pugar
Akulah bekas luka yang tak mengering sempurna, tapi kaukelupas paksa
Aku kaubiarkan membelasut kalut di rongga hidup
Yang dulu pernah kaujanjikan indah

@kristufreak

Dua Puluh Lima April: Terbit

Menyibak tirai pelan sebelum semua terjaga
Nafas kuhela hawa dingin terasa
Ah, pagi tiba
Terlalu pagi untuk jadi pagi
Terlalu manis untuk secangkir chococino yang kuhisap dengan merdu
Jendela masih terkantuk-kantuk
Kepala terantuk, lisan mengutuk
Tapi bukan apa-apa, belum pasti kutemui
Dunia esok hari
Air menembus sendi belulang
Gemeretak dinding rongga berirama
Tirai jiwa tersingkap sempurna seketikanya
Ditengah gigil kulanjutkan dengan dua rakaatku
Bersua dengan kekasih tanpa sepengetahuan matahari
Sejuk ini adalah efek sakral semalaman
Sebab tangisnya meninggalkan tetes penghabisan di liuk ilalang

@kristufreak