Rabu, 30 April 2014

Tiga Puluh April: Layang-Layang Terbang Sendirian

Layang-layang yang terbang sendirian
Di langit kota ini tak ada elang, ia jadi yang paling tinggi menyaingi puncak-puncak gedung pencakar langit.

Ia membelai langit dengan ekornya yang panjang.
Angin adalah kekasihnya.
Yang tak bosan mengayunnya ke sana ke mari.

Tapi angin tak pernah bicara, dan angin tak pernah tinggal.
Layang-layang yang terbang sendirian.
Ia nampak kesepian. Tanpa teman bicara.

Mungkin jika aku bisa menyusulnya, aku akan menagih cerita soal kota dari sudut pandangnya.
Tentang ratusan mobil yang berlalu lalang di bawahnya,
tentang kepala-kepala manusia dengan berbagai kisah dan rahasia di jalanan
sana,
atau tentang apa pun yang tak setiap hari aku lihat dari tempatku.

Aku akan menyuguhkannya kopi dengan cangkir yang ku bawa dari rumah.
Kami akan
piknik di atas sana dan saling bercerita tentang pedih.
Tentang kesempatan bahagia, atau hanya tentang cinta yang itu-itu saja.
Kami akan bercerita sampai kelelahan, lalu aku akan pamit pulang.

Layang-layang akan kembali terbang sendirian.
Dan aku akan kembali menjalani hidupku sendirian.
Seperti layang-layang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar