Hujan Punya Cerita Tentang Kita
Ketika orang lain sibuk mengutuk tentang hujan,
mengambil ponsel lalu bergegas membatalkan janji.
Ramai melihat kelangit dan mengeluarkan mantra,
kutukan bermacam-macam.
Sesegera mungkin menepi di jalan,
mengeluarkan jas, lalu memakainya.
Aku. Entah aku kenapa.
Lebih memilih kehujanan daripada melakukan hal- hal itu.
Aku percaya, hujan adalah salah satu waktu sakral.
Dimana ribuan malaikat menangis,
nikmati hujan, nikmati.
Para petani tersenyum di sana, panennya tak jadi mati.
Para anak kecil bergulung-gulung di tanah, tanahnya tak lagi gersang.
Seorang ibu tersenyum, menaruh kaleng di teras rumah,
untuk minum kopi suaminya esok pagi, katanya lirih.
Tukang ojek payung di depan sebuah mall membatin,
“Anakku bisa makan hari ini”.
Nikmati, nikmati, kenapa tidak sekali merasa kurang nyaman,
atau harus membatalkan janjimu
demi jutaan kebahagiaan di luar sana?
Senin, 28 April 2014
Dua Puluh Sembilan April: Hujan Punya Cerita Tentang Kita
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar