Lebih dari sebelumnya kini aku jauh lebih ikhlas untuk menerima pergimu. Sebenarnya banyak dari yang akan kurindu ialah tawamu daripada sekedar ragamu yang dulu disampingku. Aku lebih lega untuk melihatmu berjalan bersisihan dengan senyummu yang tak lagi kausajikan untuk aku. Aku lebih bisa menerima melihat figurmu yang tadinya selalu hadir disetiap hariku dan kini tidak.
Kegagalan ini sepenuhnya kusadari bahwa tak lain ialah proses pendewasaan diri, untuk aku, begitu juga kamu. Lepas dari kenyataan bahwa kau benar-benar belajar dari kisah ini, atau justru tidak sama sekali.
Ketahuilah, tidak pernah ada yang sia-sia untuk apapun yang kausahakan dengan sepenuh hati, meskipun terhenti dengan akhir yang bukan seperti kita harapkan jauh-jauh hari. Dari kita, banyak makna yang ketemui dari sekedar selalu bersama, bertukar cerita, dan berbagi kegilaan, tapi aku bisa merasakan bagaimana rasanya pernah menjadi bagian dari hidup seseorang. Aku hanya tidak menyangka, ternyata aku mampu menjaga rasaku lebih baik darimu. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, aku akan mengangkat kepala sebab aku jauh lebih baik dari kamu, yang pernah kuperjuangkan dulunya.
Dan daripada sekedar membencimu, aku lebih memuliakan diri dengan membiarkan kau memilih sendiri jalan hidupmu. Tuhan sayang padamu, dan semoga dia akan mengajarimu rasa sakit yang bertubi-tubi pernah kukucapi dulu. Jangan menangis nantinya, karena aku bertaruh untuk setiap air matamu, yang kau tidak akan bisa menahannya.
Dan untuk beberapa waktu ke depan, aku akan menata hati juga hariku yang sebelumnya sangat berantakan karenamu. Sedih? Memang. Kecewa? Sangat. Tapi ibuku bilang, lebih baik melepaskan apa yang ingin pergi daripada mempertahankan apa yang tak ingin tinggal. Yang baik akan bersanding dengan yang baik, dan yang buruk akan bersanding dengan... ah sudahlah.
Jelasnya, saat ini aku sudah tak ingin lagi mengecewakan diriku sendiri, apalagi meratapi betapa mahalnya ketegasan darimu, seorang laki-laki. Kemarin aku tidak menangisi pergimu, aku hanya sedang menguatkan hatiku, meski, keduanya sama-sama melelehkan air dari mata.
Dan kamu, yang kini mendeklarasikan diri masih mengharapkan hatiku tapi terus mencacah halus tiap bagiannya, lihatlah, lima jariku mengayun bebas di udara memberimu lambaian sederhana.
Pastikan, kau tidak akan menyesal nantinya karena pernah menutup mata hatimu, hingga tak bisa melihat nilai kesungguhanku.
Pastikan sebelum lelapmu, kelak kau tidak akan terbayang aku, dan dosa-dosamu kepadaku.
Selamat malam. Selamat tidur. Dalam damai.