"Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni,
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon
berbunga itu"
— Sapardi Djoko Damono
***
Mungkin ku tak setabah hujan di bulan juni, tak mampu ku rahasiakan perihal rinduku tentangnya. Ia terus saja mengguyur menjadi bah di ruang tak berdimensiku, serupa air mata, yang meski bukan hujan
ia terus saja jatuh menetes.
Maka, bukanlah lagi tentang hujan yang akan menitipkan rinduku, bukan juga musim yang berulang berganti, tetapi pada doa-doa yang menitah di tiap sujudiku.
Mungkin aku tak sebijak hujan di bulan juni, tak pernah inginku menghapus jejak-jejakku ketika menujunya, meski dunia dan diriku sendiri pernah ragu. Aku masih berjalan menjejaknya, menempuh ruang dan waktu yang demikian berjarak.
Maka, bukanlah ragu itu yang akan kutumbuhkan, bukan juga kecemasan-kecemasan tentang ketakmungkinan, tetapi akan keyakinan yang ku tanamkan di hatiku.
Mungkin aku tak searif hujan di bulan juni, tak mungkin kubiarkan yang tak terucap itu berlalu tak berarti. Ku lebih memilih menyatakannya, mengatakan dalam
ramaiku.
Maka, bukanlah tak ingin mencintai
dalam diam, bukan juga ingin riuh gaduh mencintainya, tetapi pada cinta yang tersampaikan, biarku sebutnya sebagai harapan.
Perihal ini, pada pohon berbunga itu, pada jalan itu, pada akar pohon itu. Sampaikanlah, setabah apa aku kini – hujan dan tanpa hujan, aku terus saja merindunya.
Perihal ini, pada pohon berbunga itu, pada jalan itu, pada akar pohon itu. Sampaikanlah, sebijak apa aku kini – berjalan ataupun tidak berjalan, aku tetap saja menujunya.
Perihal ini, pada pohon berbunga itu, pada jalan itu, pada akar pohon itu. sampaikanlah, searif apa aku kini – kukatakan atau tidak kukatakan, aku akan selalu mencintainya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar