Rabu, 15 Oktober 2014

Lima Belas Oktober: Tentang Hujan dan Kenangan

Kata orang, menceritakan hujan berarti sama dengan menceritakan kenangan, kesepian, atau harapan-harapan pada masa lampau.
Apakah memang hujan seperti itu? Mungkin tidak, mungkin hanya aku saja yang berlebihan.
Tapi entah kenapa aku begitu suka dengan hujan, kesepian, bahkan kesendirian.
"…Hujan di Alengka seperti hujan di manapun.
Bumi memiliki kuasa atas apa saja, termasuk mengubah tumpukan awan yang pucat untuk menjadi titik-titik air dan mantra tentang
kenangan, lalu tanah basah dan aromanya akan mengembalikan ingatan.
Bumi adalah jawaban
tentang bagaimana cara langit menyentuhnya dengan air, dengan angin, dengan bunyi, dengan pelangi yang mengantarkan dongeng dari
negeri khayangan…"
Seperti itulah hujan menurut Sita, seorang wanita yang sangat sabar, yang selalu setia untuk menunggu suaminya Rama datang, menjemput dan melepaskannya dari kurungan
Rawana di Alengka.
Hujan, dia selalu bisa mengembalikan cerita- cerita yang sudah hilang, atau cerita-cerita yang memang sengaja untuk di hilangkan.

Ah, kenangan memang pasti akan kembali lagi bila sudah sangat di rindukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar