Jumat, 29 Agustus 2014

Dua Puluh Sembilan Agustus: Fiksi Sang Mantan

Ketika sekarang kau telah bahagia 'ntah dengan orang beruntung yg mana, ada rasa sulit di dalam hati jika harus merasa bahagia juga. Rasa-rasanya, kelu bibir mencapai puncak untuk tersenyum ketika kau berkata kau tak sendiri lagi.
Pernah mengetahui bahwa kita pernah sama-sama suka, adalah sebuah titik balik di mana rasa syukur sulit terucap ketika kau sekarang bahagia bersamanya.
Aku tak pernah merasa sejatuh-cinta ini pada seseorang yg menyentuh pun aku sulit, berharap bertemu kau pun aku menganggap itu keajaiban. Kau bisa membuatku jatuh cinta ketika orang-orang di sekitarku tidak
bisa.
Apakah rasa yg kau sembunyikan itu masih tersembunyi dalam hatimu?
Apakah jika kita tak sengaja bertemu, kau akan sadar bahwa di depanmu itu adalah aku?
Apakah kau sadar, bahwa dulu kita pernah jatuh cinta tanpa peduli atas keadaan dan waktu?
Dan untukku? kau tak perlu bertanya.
Aku akan selalu menjawab ya, kepada setiap pertanyaan yg kau lontarkan.
Ya, rasa itu masih tersembunyi rapih dalam hatiku.
Ya, aku akan menyadari itu kau. Seseorang yg aku kagumi sepenuh hati.
Ya, aku akan terus sadar. Bahkan ketika saat itu aku sudah bahagia dengan orang lain.
Tapi, kembali keadaan menciptakan kita
seperti ini. Kau yg diciptakan untuk tidak mendampingi aku, aku yg diciptakan untuk tidak mendampingi kau.
Aku sempat bertanya, apakah kita adalah mainan yg Tuhan ciptakan?
Yg sengaja dipertemukan, padahal keadaan tidak mengizinkan. Yg Membiarkan kita saling
mengutarakan rasa, yg sengaja membiarkan
kita saling berkata bahwa kita pernah sama-sama suka.
.
Jika berkenan, izinkan kata terimakasih adalah kata terakhir dariku sebelum kebahagiaan mengantarkanmu kepada pintu perpisahan
dari duniaku.

Terimakasih telah datang.
Dulu, ketika aku sedang butuh seseorang.

Rabu, 27 Agustus 2014

Dua Puluh Tujuh Agustus: Cinta Itu Pengecualian

Jika kau percaya pada cinta maka kau akan tahu bahwa tidak ada cinta yang memiliki alasan.
Aku sibuk mencintaimu hingga tak tahu bagaimana kau telah menumbuhkan cintaku padamu dan mengabaikan bagaimana cintamu
padaku.
Aku tak bisa beranjak, terjebak pada rasa yang tak ku tahu arah datangnya, pada kamu yang tak ku tahu laju hatinya.
Tak ku temukan alasan kenapa cinta sudi bertumbuh pada kamu yang sama sekali belum bisa disentuh.
Kau tahu?
Cinta adalah pengecualian, kau tak
bisa melawan ketika itu sudah pilihan, bahkan ketika itu sudah mustahil diperjuangkan.
Cinta tak pernah memiliki tapi, ia tak punya "karena"
Ia hanya ingin diikuti, meski sering kali sulit dimengerti, dengan keras hati ingin berhenti pada hati.
Tak mau tahu seberapa keras kau
menghindari, ia hanya akan semakin menjadi ketika berkali-kali kau menyuruhnya untuk menyudahi.
Ia semakin tumbuh ketika ada perbincangan tengah malam, ketika ada ucapan selamat pagi, siang, sore, dan malam.
Ketika terlalu banyak rindu yang kau bebaskan melayang-layang menyerupai wajahnya di angan.
Ketika semua logika tak mampu kau kuasai bahkan ketika orang lain sudah menyuruhmu berhenti karena melihatmu tersakiti.
Lihat, betapa ia menjadikanmu orang yang sama sekali tak memiliki alasan, tak punya penjelasan, pada apa yang mereka sebut itu,
cinta.

Selasa, 12 Agustus 2014

Dua Belas Agustus: Angkuh

dia manusia paling angkuh,
menolak cinta jauh dari hatinya,
memijak sayang keujung kakinya,
membuang rindu keluar dari kepalanya,
memandang lelaki cuma lalu sebelah
matanya,
dipejam, pendam, dan hilang,
seakan tak pernah wujud cinta dalam hidupnya,
padahal,
dialah manusia terpaling lemah,
sembunyi perasaan dibalik keangkuhan,
punya cinta, dipendam,
punya rasa, dibiar,
punya rindu, tersimpan,
punya sayang, terbuang,
lagak manusia tak akan tewas,
kukuh berdiri atas dua belah kakinya,
tersungkur padu bila diusik hatinya,
dia pada akhirnya,
kalah pada kepura-puraan,
yang sekian lama bersembunyi,
disebalik keangkuhan seorang wanita,
bila datangnya kejujuran,
dari seorang lelaki,
yang dengan senyum berbicara,
"cinta tak akan pernah datang dalam angkuh,
cuma wanita yang seringkali rapuh dan akhirnya
jatuh”
puisi ini sendiri,
sudah cukup angkuh,
bila ‘aku’ ditulis ‘dia’.

Dua Belas Agustus: Terimakasih

Datang untuk mengenal, tak lebih
Menyapa untuk saling bertukar suara, tak lebih
Mendekat untuk menilik ke dalam jiwa, tak lebih
Terimakasih telah membuka hatiku walau hanya untuk melihat-lihat
Terimakasih untuk keramhtamahan yang kau buat-buat
Ragamu, dramamu, segala palsumu
Pergilah, pergi yang jauh

Sabtu, 09 Agustus 2014

Sembilan Agustus: Ini Caraku

Ini adalah caraku merindukanmu
Menulis di keramaian, bernyanyi di kegelapan
Membungkus namamu di dalam setiap doaku
Ini adalah caraku mencintaimu
Kutintai namamu, disetiap lembar bukuku
Berharap kutemui wajahmu disana setiap kali aku membukanya
Dan berdoa semoga esok kita bertemu, dan bertemu lagi
Ini adalah caraku mencarimu
Duduk seharian di kantin berharap kau melewati
Dan aku mampu melihat matamu
Andai aku bisa membaca tatapanmu
Bagaimanapun itu
Biarkan aku menyayangimu
Ini adalah caraku menyayangimu
Melihatmu menemukan seseorang yang baru
Yang lebih baik dari aku, yang mampu membahagiakanmu
Melihatmu tersenyum dari kejauhan dengan penuh haru
Ya...
Karena aku begitu menyayangimu.

Jumat, 08 Agustus 2014

Delapan Agustus: Untuk Seseorang yang Kutintai

Menulis frasa-frasa terbatas untuk jiwa yang tersenyum disana dalam lingkaran rindunya
Baris-baris kata menggantikan sosok ini dalam kedua mata
Sosok yang mungkin dulunya pernah kau rindukan meski terabaikan
Sosok yang mungkin dulunya pernah kaucinta dalam pengabaian
Sosok yang mungkin dulunya bertegursapa dalam kebisuan
Yang kini meninggalkanmu
Menghapus jejakmu dengan kedua tangannya yang menggantung setiap malam
Menantikan pesanmu ditengah-tengah dingin udara
Berlari-lari dalam fana yang membawanya seperti komidi putar
Terus berputar-putar namun sejatinya ia Tak pernah sejengkalpun berpindah dari sana
Dia merindukanmu dalam tinta yang ditorehkan di atas buku harian
Menulis dengan lancar ditemani petikan gitar
Menulis puisi yang berharap suatu saat kaumengerti
Meski ia tau kau tidak akan pernah membacanya