Kamis, 25 Juni 2015

Dua Puluh Lima Juni: Lilin Membakar Bulan

Sedang mengutip namamu, lagi, pada baris yang sama. Kutulis sampai pada kalimat ketiga.
"ketika satu bulan menghilang, bahkan seribu bintang tak akan bisa menggantikan cahayanya".
Sayang,
Rangkaian kata ini bukan untuk memanggilmu dalam ramai. Tidak untuk menarik lagi hidupmu yang tlah damai.
Tapi bukan aku tak mengiba pada setiap alfamu, karena aku pasti kehilangan. Maka kubakar rasa ini dalam api, kusemai panasnya dalam bara.

Hingga aku tersadar, cahaya seribu lilin ini terang.


Kamis, 11 Juni 2015

Sebelas Juni: Dari Aku yang Sombong

Hai kamu. Yang mungkin hingga saat ini masih menguntai benci padaku. Kemarin aku melihatmu, mataku tak sengaja menangkapmu dari kejauhan. Kulihat kamu sedang tersenyum lebar. Kamu terlihat bahagia, aku senang mengetahuinya. Aku rasanya ingin menyapa, namun kurasa aku tidak seberani itu. Apa baiknya tersenyum padamu setelah aku melakukan hal yang sangat menyesalkan kemarin? Tentu sulit melupa bagimu, aku bukan bersikap angkuh atau arogan, hanya saja aku begitu menghargaimu. Aku bukan malaikat penghendak rasa. Juga bukan pengendali hati yang baik. Tidak mau jika terus membuatmu menunggu, sedang aku sudah menempatkan hatiku pada sosok yang lain. Ketahuilah, aku hanya tidak ingin kamu terluka lagi, lagi. Aku sangat menghargai rasa yang kamu pelihara. Hanya mungkin langkahku yang tak tepat, dan caraku yang tak baik.
Tersudut dengan apa yang orang lain katakan, aku tak menepis, tak hendak munafik. Karena aku juga sama sepertimu, bukankah kamu juga tidak bisa mengendalikan hatimu dan rasamu untuk siapa? Mengalir begitu saja, dan naif rasanya jika lagi-lagi aku tak mengakuinya. Jadi jangan sekalipun menyesal untuk seluruh waktu yang pernah kamu habiskan bersamaku. Karenamu, aku mengenal hatiku dengan baik. Aku pun tidak berharap untuk memugar setiap bincang kita, yang terpenting adalah, mari kita mencerna waktu kita dengan bijaksana.
Semoga, dan senantiasa kuharap, agar kamu tetap selalu menebar senyummu. Meski mungkin aku bukan salah satu dari yang beruntung mendapatkannya.


Kamis, 04 Juni 2015

Empat Juni: Kembali Berjalan

Menjumpai kepergian,
Pada purnama ke delapan,
Tolong bantu aku menerjemahkan,
Segalanya mengenai kehilangan.
Lengan kita yang saling berpelukan.
Berganti punggung yang saling
berhadapan.
Dulu, kita terbiasa saling mengingatkan.
Kini, kita terpaksa saling melupakan.
Apakah ada yang lebih menyedihkan?
Kau pergi ke kiri dan aku belok ke kanan.
Walau kulepaskan kau dengan enggan.
Bayangmu tetap harus pergi pelan-pelan.
Selamat tinggal perpisahan,
Membingkaimu lagi adalah angan.
Mengingat senyummu adalah kenangan.
Namun mengiringmu kembali bukanlah harapan.