Senin, 27 Oktober 2014

Dua Puluh Tujuh Oktober: Maaf, Ini Sudah Cukup

Hujan, selalu saja ada mimpi yang berulang, saat dia datang. Ada kesedihan yang tidak bisa dijelaskan seperti apa rasanya. Dan aku hanya tidak bisa berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi. Saat aku tau bahwa aku tak lagi diinginkan oleh seseorang yang ternyata padanya harapku bermuara, maka kemudian yang kudapatkan hanyalah kepedihan.

Ada seorang perempuan yang ingin terbangun menjadi pelupa, dan itu aku. Sebab aku selalu teringat, tentang kita yang melakukan hal bahagia berulang-ulang dan saat debaran jantung kita masih sama. Mungkin aku terlalu bodoh, terlelap dalam impian untuk memilikimu. Serupa tukang dongeng yang tetap setia menanti dirimu sambil menggarap fiksi yang tinggal belaka.

Mungkin kata orang benar, saat mimpimu sudah terlalu tinggi, kamu butuh dibangunkan oleh orang lain. Mungkin itulah aku.

Satu hari, hujan pernah turun, deraian air mata yang tak masuk di akal ini mengepungku. Biasanya, aku mencintai hujan dengan sangat. Tapi kali ini, aku membencinya, sebab setiap kali aku melihat hujan kenangan itu selalu berhenti di kamu.

Aku hadirkan sebuah tanya untukmu;
Seperti apa rasanya melupakanku? Apakah menyenangkan? Atau melegakan? Jika iya, maka ajarkan aku cara untuk melupakanmu.

Sejak kapan kamu berubah?
Rasanya aku rindu sekali dengan keadaan sebelumnya. Tapi, saat ini sungguh tidak mungkin kita kembali menata kenangan. Karena yang harus aku lakukan adalah menutup lembaran masa lalu yang mengganggu setelah sekian lama aku cukup sabar menunggu.

Waktu bertemu saat nanti, aku akan diam melewatimu, seperti hal yang lebih dulu kau lakukan. Aku butuh bahagia. Saat itu, aku memang menangis, merasa masih belum bisa benar-benar berhenti menunggumu. Tapi sekarang sudah tamat, aku ingin lekas pergi, hingga akhirnya tidak pernah muncul lagi membawakanmu ingatan tentang bagaimana bahagianya kita dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar