Maaf jika lagi-lagi dengan tanpa rasa bersalahku mengusik tenangmu. Maaf jika malam ini aku kembali merindukanmu, teman.
Sebagai orang yang mengenalmu tujuh belas tahun lamanya, seperti satu tambah satu aku mengahafalmu di luar kepala. Kau dengan segala kecerobohanmu. Cerobohmu yang mampu membuat semua orang tertawa terpingkal setengah mati, dan cerobohmu yang membuat kami -sekitarmu merasakan kehilangan sosokmu sampai saat ini.
Hari Minggu. Tanggal lima belas. Bulan september. Tahun dua ribu tiga belas. Malam. Pukul satu lewat tiga puluh menit. Temanku yang tersayang, Erwin Perdana. Meregang nyawanya di trotoar Slamet Riyadi. Ditemukan dalam keadaan koma setelah terpental sekitar sepuluh meter dari kendaraannya yang telah terbelah dua. Anyir.
Malam itu, semua orang berdoa, kamu akan baik-baik saja, Erwin. Tapi diluar dugaan kami, Tuhan, punya jalan lain. Untukmu. Walaupun telah habis dua jam orang-orang berseragam hijau itu berusaha memegang ruhmu kuat-kuat, tetapi Tuhan tidak juga mengizinkanmu membuka kedua mata. Kamu pasti juga sudah sangat kesakitan saat itu, sehingga mungkin kamu memilih rebah, dengan lelah, dan pasrah.
Pukul tiga lewat tiga puluh menit, samar-samar terdengar, dengkuran cukup keras dari balik ruang UGD mu. Malaikat rupanya sangat tidak sabar ingin segera membawamu pulang, kerumah. Kamu tidak bisa menolak, atau minta dijemput lain hari saja saat kamu sudah merasa puas dengan dunia. Apakah itu rasanya sakit sekali?
Kardiograf itu jadi alarm yang berkebalikan. Yang justru berbunyi saat tiba waktumu harus tidur. Angin malam itu jadi sangat dingin, karena senyum dan canda hangatmu ternyata lebih dulu sudah terbang jauh keatas sana.
Meninggi. Hilang.
Dan tidak terengkuh. Kembali.
Aku sudah tidak punya lagi, anak laki-laki yang berdiri di barisan paling depan saat aku diserang.
Aku sudah tidak bisa lihat lagi, anak laki-laki tanpa rasa malunya dengan hanya handuk oranye berlarian di tengah jalan.
Aku sudah tidak bisa lagi melihat anak laki-laki yang tidak pernah mengatur bicaranya yang sekenanya, itu.
Sebab hari itu aku sudah kehilangan
Seorang teman.
Sekaligus sahabat yang hebat.
Seorang Erwin Perdana.
Ada dan tiadanya kamu, di dunia ini, tidak akan mengubah kenangan masa kecilku yang sangat indah.
Juga, ada atau tiadanya kamu, tidak akan membuatku lupa, bahwa hari itu kita pernah tertawa bersama-sama.
Selamat jalan, teman.
Semoga jalanmu terang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar