Baru kemarin kata terucap.
Kupikir Tuan mudah memahaminya.
Nyatanya? Aku masih serupa isapan liur untuk dahagamu
Lemparkan saja kerikil-kerikilmu pada wajahku yang tak lagi memiliki paras.
Aku sudah kebal pada luka yang kau sematkan
Tak ada tatapan matamu yang memberi sinar, apalagi rasamu yang kau akui telah terisi bulir kasih.
Semuanya kosong, Tuan!
Pergilah menjauh. Aku sulit memahamimu, Tuan.
Yang kau beri hanyalah kisah pilu dan lirih yang menyayat
Kupikir Tuan mudah memahaminya.
Nyatanya? Aku masih serupa isapan liur untuk dahagamu
Lemparkan saja kerikil-kerikilmu pada wajahku yang tak lagi memiliki paras.
Aku sudah kebal pada luka yang kau sematkan
Tak ada tatapan matamu yang memberi sinar, apalagi rasamu yang kau akui telah terisi bulir kasih.
Semuanya kosong, Tuan!
Pergilah menjauh. Aku sulit memahamimu, Tuan.
Yang kau beri hanyalah kisah pilu dan lirih yang menyayat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar