Kau nampak begitu abu. Aku rasa jika kau
hitam akan lebih mudah bagiku mendepakmu jauh-jauh. Tak perlulah kau mengucap salam padaku. Salam bagimu hanya lintas lalu. Seperti kendaraan yang hilir mudik di jalanan lengang ibukota. Tidak ada yang ditinggalkan kecuali debu dan asap pekat beracun. Seperti itu pula kamu buatku : Racun.
Kau serupa abu namun kehitaman, tak
nampak kilatan-kilatan putih menyerupai larik pada detail garis wajahmu. Tak seperti yang kulihat dikeramaian, wajah-wajah yang terserak nampak putih merona, tapi tidak padamu, kau hitam.
Mungkin raut ibukota jadi oksigen bagi
parumu. Kau akan mati perlahan jika oksigen menghilang.
Lalu bagaimana denganku?
Bukankah aku oksigen bagimu?
Sabtu, 04 Juli 2015
Empat Juli: Abu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar