Kuputar mataku di depan layar berukuran empat setengah inchi, bertanya-tanya dimanakah sekarang sosok di seberang sana? Deretan abjad berdesakan untuk menempati kolom seratus enam puluh karakter ini, sampai jarum jam kurasa hilang kendali pada geraknya. Aku benci untuk menerka, namun tak sudi pula berdrama layaknya tidak ada apa-apa, tidak ada tanda tanya.
Kucuri waktu lelap sekejap, untuk sekedar mengintip kalau-kalau ada tegurmu yang tidak ingin kulewatkan, meski seringnya aku terhempas pada kenyataan bahwa hari ini pesanmu sudah berakhir, kemudian dengan berat rasa aku kembali sembunyi di bawah dinginnya selimutku.
Kulakukan berulang seperti itu, ritual sebelum tidurku.
Solo, di atas pulau pejamku, teruntuk yang sedang meretas lelah dalam lelap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar