Selasa, 17 Maret 2015

Tujuh Belas Maret: Berjingkat


Bismillah, yaa muqolibul quluub tsabit qolbi ala diinik

Doa ini adalah doa yang sering kali saya
ucapkan menuju usia saya yang semakin
dewasa.
Jejak. Ternyata bukan sekedar langkah
yang menyisakan jejak, tapi juga perpisahan yang terjadi dan tidak bisa diingkari dari setiap kehidupan yang dilalui manusia.. Setiap perpisahan akan meninggalkan jejak bagi tokoh-tokohnya baik tersurat atau hanya tersirat dalam benak. Tapi saya yakin walau dalam ketegaran, itu tetap jejak yang ditinggalkan oleh subjek atau objek
perpisahan.
Begitu pun dengan saya, 20 tahun
menginjakkan kaki di muka bumi, begitu
banyak perpisahan yang sudah terjadi
dalam hidup saya, termasuk tentangmu

Ya, kembali membahas tentang “mu” yang mungkin kau pun tak kan tau bahwa itu adalah namamu..
Bagi saya perpisahan adalah konsekuensi
yang harus kita terima, ketika memilih
bertemu. Bagi saya perpisahan adalah rencana yang tlah dituliskanNya, tanpa kita tau kapan terjadinya tentangmu dan tentang perpisahan..
Dari awal bertemu, perpisahan denganmu
adalah hal yang paling saya fikirkan, bukan karena kamu menyebalkan atau itu yang saya harapkan, tapi keyakinan saya bahwa saya berada diruang yang tak sama denganmu. Mungkin kau takkan tau, ya karena pikiran ini hanya ada di benak saya, tanpa ucap, dan tanpa sikap.
Pertanyaan ini yang selalu ada, “Kapankah waktu itu tiba, ketika
memang perpisahan itu akan terjadi?” beberapa tahunkah? satu tahun yang akan datang? dalam hitungan minggukah? atau esok? atau hari ini? atau..
saya hanya menghibur diri walau
sebenarnya perpisahan itu telah terjadi?
Mungkin terlihat konyol ketika saya sangat menghitung kapan perpisahan itu akan terjadi, percayalah bukan karena kesalahan atau sikap-sikapmu, tetapi karena saya sedang mempersiapkan diri,
atau lebih tepatnya menguatkan diri, karena saya akui saya bukan seorang yang tangguh menghadapi sebuah perpisahan.
Sebelumnya saja kamu sudah berhasil
membuat saya beberapa kali menangis,
tanpa perpisahan, dan yang pasti tanpa kamu ketahui.. Lalu bagaimana jika karena perpisahan denganmu?
Tapi percayalah saya takkan pernah
membencimu, hanya karena kita pernah
bertemu. Karena ada nikmat yang Allah
anugerahkan setiap kita bertemu dengan
seseorang dihadapan kita, termasuk saya
yang memilih bertemu denganmu.
Percayalah kamu telah mengajarkan banyak hal pada saya, sangat banyak tentang hidup ini, tentang rasa yang harus bisa saya kendalikan setiap bertemu denganmu, atau tentang tangis yang harus saya tahan tentang luka itu, atau tentang perempuan yang tegas yang harus saya tekuni, karena memang saya bukan seseorang yang tegas dimatamu.
Karena hidup ini kan terus berjalan kau
dengan hidupmu, dan tentunya saya dengan hari-hari kedepan yang harus saya lalui. Jika perpisahan itu telah terjadi, saya yakin banyak yang tak lagi sama dalam hari-hari ini, tapi tak perlu kau dan aku bersedih karena kebaikan harus tetap dipaksakan, semoga Allah membalas usaha ini untuk
tetap menjaga diri.
Jika perpisahan itu telah terjadi, jangan
takut jika air mata saya akan
mengganggumu, saya sudah berjanji untuk lebih dewasa menerima semua yang terjadi, termasuk tentangmu. Jangan takut bahwa saya akan menggangumu, karena pada saat
yang sama saya akan belajar egois untuk tidak memikirkanmu.
Kembali tentangmu, mungkin hanya bisik
terimakasih yang kutuliskan dalam catatan ini. Terimakasih atas jejak yang telah kamu berikan dalam hidup saya, mungkin akan saya ceritakan pada seseorang di masa yang akan datang siapa namamu, tapi maaf
tidak untuk saat ini.
Terdiam, dan saya tersadar, jika mungkin ini adalah jawab dari doa yang saya pinta diatas. Bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk kebaikanmu. Karena hanya Allah sang penguasa hati, karena dipundak ini ada jalan perjuangan yang menanti semangat kita hingga suatu hari tiba ketika hak rasa ini sudah pantas, pada siapapun yang dipasangkannya untuk kita..

Sampai jumpa. Semoga Allah menjagamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar