Rabu, 18 November 2015

Delapan Belas November: Menunggu Desember

Menunggu Desember..
Sebagaimana aku merancang komposisi kata dalam frasa ini, aku tahu ini tidak akan pernah tersampaikan. Aku pernah kian jatuh cinta dalam debur bait cinta yang dia hembuskan. Hari itu seringkali kuputar kembali saat alam tidur hendak kujelang. Rasaku beralun jauh, jauh, dan terus hingga hari ini bergemuruh.

Kata mereka janji bisa diuntai. Melalui aksaranya aku percaya tidak ada janji. Aku enggan menagih, karena sejatinya berakhir perih. Bagi jiwa, cahayanya lebih dari sekedar janji. Sebab itu tiada perlu aku bersedih.

Aku, kamu, waktu.
Selain jarak yang membelah, satu dari sekian bahkan tak ada terbesit persoalan menyerah. Percayaku kepada waktu, dia bergerak laju. "Menujuku Desember", ujarnya. "Selamanya", sanggupku. Belum pernah diseumur hidupku menantikan datangnya hari. Meski lebih sering darinya aku berusaha berlari.

Menunggu Desember..
Detiknya bagai nadi yang berdenyut rapih seperti irama. Dengan nada kepercayaan, juga lantunan rindu untuk bersama.

Menunggu Desember..
Baru sekali ini kuhitung setiap berkah yang kepadaku dianugerahkan. Karya agung, maha sempurna. Kasih tanpa omong kosong keraguan. Benderang pun dihujani pelangi. Andai menunggu Desember selalu seperti ini..

Menunggu Desember..
Sesiapa menemukan bosan, tidak kuhiraukan. Sayang saja, selekas itu kita berlainan. Aku bukan alasan yang tepat baginya untuk berlabuh. Dan dia, satu yang tanpa ada lain definisi istemewaku, berlayar keluar dari teritori hidupku. Aku karam. Sesaat nyaris sudut mataku berurai kembali. Satu nama menyelinap dibalik doa.

Mengenai arah yang kupilih, detik itu aku dijebak kemelut. Sesaat lain lagi, aku tau dia tak akan datang. Ada baiknya aku pulang. Meletakkan segala elegi untuknya dari tepi dia kemudian pergi.

Dia tidak membawa apapun milikku, kecuali hati.Untuknya, takkan kuminta kembali. Karena yang kutahu, kasih itu hanya memberi. Selalu ingat apa yang kuberi, kapanpun waktu buruk menghampirimu.

Jangan pernah lupa..
Sesayup doaku terselip di saku kirimu,
jauh sebelum aku menunggu desember..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar