Gemericik hujan beradu dengan atap bangunan, sedikit genangan air di dalam sepatuku, malam ini basah. Iya, basah. Ialah untuk seluruh tubuh, raga, dan juga jiwaku.
Masih asyik mashyuk dengan beberapa batang djarum, asap mengepul di dinding-dinding rongga pernapasan yang makin terasa sesak malam ini. Katakan ini amunisi, sebab aku perlu banyak kekuatan untuk berkelahi, dengan diriku sendiri.
Jadi hujan, jangan pergi dulu. Aku masih punya sesuatu di mataku yang harus kusembunyikan diantara tetesmu.
Sabtu, 07 November 2015
Tujuh November: Anomali Hari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar