Kunamai bintang itu, namamu, dimana disitu kutemui binar tatapmu, kumalami setiap pendarnya dengan kedua tanganku yang terbuka. Dan kemudian kujelajah masa depan kita dengan doa, kupintal segala kecemasan saat semua rasa diremas erat dengan dekap itu, rindu. Seluruhmu, ialah partikel yang berkaitan dengan padu. Tentang bagaimana pribadi keras hati juga kedewasaan diri yang kemudian Tuhan mengemasnya dengan kilauan pesona, hingga hatiku tergetar olehnya.
Wahai selaksa yang kudamba dan padanya harapku bermuara, biar kusisipkan setiap gurat senyummu dalam sakuku, dan kugelar dengan rapih setiap kali aku hilang kendali serta kuasa untuk menunggu. Ulurkan kelipmu mengiring setiap gontaiku, aku dan tatihku menujumu sampai genggamku dan genggamu jadi satu.
Kunamai bintang itu, namamu. Agar aku tidak sepi, setiap kali matahari bergegas pulang ke peraduannya. Kita isi makna indahnya hari ini. Jadilah pijar, lentera hidupku. Berkeliplah, agar aku tau dimana beradamu. Pahami aku saat menangis di saat seluruh dunia jahat padaku. Dan kita isi semesta kita bersama-sama.
Maka biarkan, kunamai bintang itu, namamu. Bintang yang tinggi di atas sana. Yang begitu indah di setiapku memandangnya, namun saat itu pula kusadari, juga begitu jauh untuk kedua tanganku ini merengkuhnya. Haruskah? Aku -perempuan ini- terbang ke atas sana untuk menggapainya?
Senin, 23 Februari 2015
Dua Puluh Tiga Februari: Kunamai Bintang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar