Jumat, 20 Juni 2014

Dua Puluh Juni: Titik Jenuh Pertama

Bingung. Kabur. Entah. Aku tak tau arah kemana seharusnya ku tuju. Stagnan di posisi ini atau maju atau, mundur saja. Terlalu banyak tekanan bagai beton yang menimpaku dari atas, menukik, tajam, hingga tulang belakangku hancur. Tekanan yang irasional untuk seseorang yang berada di posisiku seperti ini. Ini mendesak kemampuan terbatasku.
Sebenarnya ini salahku atau salah siapa? Siapa objek yang pantas ku "kau" kan disini. Objek yang akan kujatuhi dan kuhardik atas segala sakit yang kurasakan saat ini. Siapa yang bertanggungjawab?
Aku, dari sisi terdalamku. Sama sekali. Tidak pernah meminta siapapun untuk memposisikan aku disini.
Identitas dan karakterku pelan-pelan mati. Aku pelan-pelan jadi tak berarti. Aku seperti ditelanjangi hingga semua orang melihat kearahku dengan tatapan hina, kasihan, iba. Apakah aku dengan segala keangkuhanku ini harus dipantaskan untuk itu?
Aku tidak pernah memohon-mohon untuk posisi ini. Jika memang ada pilihan kedua, bolehkah aku mengambil itu, tidak mengapa meski aku sendiri tidak tau apa pilihan kedua itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar