Pergi dengan senyumnya yang mengembang, serta decit sepatunya yang bergesekan dengan lantai marmer dingin ini. Salam perpisahan, yang membirukan lembar-lembar bahagia, persahabatan. Jabat tangan, yang menggantung seperti perasaan kita. Persis.
Di dalam hidup, harus ada keberanian dan rasa takut. Keberanian itu kamu, dan rasa takut itu sebut saja aku.
Hari ini tiba juga. Hari yang kupikir akan kuhadapi satu bulan lagi, ternyata hari ini datang lebih cepat. Cepat sekali
Sampai aku dan bibirku tidak lagi mampu membaca narasi yang sudah lebih lama kutulis dari hari hari lalu dikepalaku. Aku membeku karena tangan dinginmu. Tangan yang jauh lebih dingin dari peti beku, yang bahkan dinginnya mampu menjalar disini, syaraf-syaraf hatiku.
Ya Tuhan, aku mohon kuatkan.
Aku mohon jangan membiarkan air atas pedih ini berlomba-lomba membasahi kedua pipiku.
Karena aku tidak pantas. Untuk menangisi sosok ini...
Karena dia, lebih dari sekedar sesorang yang kujumpai setiap hari. Karena dia, benar-benar menjadi alasan aku bertahan disini.
Seharusnya, aku baik-baik saja dengan kepergiannya yang tak terduga. Tapi aku malah terseret dalam kesedihan itu.
Bagaimanapun kamu harus bertahan, dan aku juga.
Dalam doaku aku berharap kelak kaugapai semua impianmu yang selalu kamu ceritakan padaku, membahagiakan orang-orang disekitarmu.
Percayalah, kamu mungkin belum menyadari, tapi aku benar-benar tulus meneteskan air mata ini yang bahkan berusaha kusembunyikan.
Kamu, pernah menjadi alasanku untuk tersenyum
Kamu, pernah kutunggu dalam diam
Kamu, pernah membagi candamu untukku
Kamu, pernah kukhawatirkan...
Selamat jalan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar